oleh

Lapor Mas Menteri, di Kampung “tidak” Merdeka Belajar!!

Celebesta.com – PALU, Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2021 menjadi momentum bagi perbaikan pendidikan di tanah air. Tentu ini hanya momentum, kita semua berharap bahwa setiap saat, setiap waktu adalah Hari Pendidikan Nasional.

Filosfinya yakni bahwa kapanpun pendidikan itu harus dibumikan, perayaan dan pelaksanaannya bukan seperti jatuh tempo. Kali ini kita membahas beberapa kisah yang patut direnungkan oleh semua orang yang masih memiliki iman dan imun di garis terdepan kemajuan pendidikan.

Berikut catatan perjalanan Jurnalis Celebesta.com di beberapa tempat di Sulawesi Tengah. Semisal di Dusun Vilao, Desa Balumpewa, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Gedung Sekolah Dasar (SD) yang berada di tempat itu tidak difungsikan beberapa tahun terakhir. Sebab, tidak ada Guru yang mengajar disana. Seperti yang diberitakan Celebesta.com edisi (4/9/2020) dengan judul “Sekolah tak ada lagi Pembelajaran”.

Sedih sekali rasanya, pendidikan sebagai bagian penting dan menjadi hak setiap warga negara, kini tak dijamin oleh Negara.

Itulah kenyataannya, menurut dari berbagai sumber yang dihimpun ketika berada di Vilao bahwa anak-anak di tempat itu harus sekolah di Dusun I Balumpewa. Jaraknya kurang lebih 5 kilometer, untuk anak-anak usia Sekolah Dasar sangat memberatkan.

Sangat disayangkan bangunan semi permanen itu, tak ada pembelajaran. Kita semua tentunya berharap sekolah di pemukiman kecil Vilao menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Sigi.

Anak-anak di Vilao usianya beragam, jika diklasifikasi dalam sekolah formal maka ada yang usia PAUD, SD, SMP dan SMA seharusnya mendapat jaminan dari negara terkait keberlangsungan pendidikan di tempat itu.

Kemudian ada juga anak-anak di Desa Tuva yang kini bermukim di Pegunungan Kondo, Kabupaten Sigi. Pasca bencana alam 2018 silam, sejumlah anak mengkuti pendidikan alternatif (Sekolah Adat) kemudian di Tahun 2020 mereka dimasukkan di SD OMU tetapi tidak lanjut. Awalnya karena Covid-19 kemudian lama kelamaan alasan lain muncul yakni mengikuti orang tua berladang dan sebagainya.

Anak-anak itu lahir dari keluarga peladang tradisional dengan sistem Gilir Balik sehinga tidak ada pilihan lain yaitu mengikut orang tua bercocok tanam.

Harusnya kondisi ini juga menjadi bagian dari Skema Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim. Tetapi itulah jika kita melihat pemerataan pendidikan berpatron dengan Jakarta maka kondisi di daerah lain akan berbeda.

Selain potret pendidikan tersebut di atas, adapula di Dusun Puntana, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala.

Sekitar 16 orang anak-anak yang tidak mengikuti pendidikan formal jenjang SD karena jarak ke sekolah cukup jauh dengan akses jalan yang terjal. Artinya hal semacam ini tentu didorong untuk merdeka belajar.

Satu tempat yang tidak kalah menarik yakni Desa Kabetan, Kecamatan Ogodeide, yang dihuni sekitar 100 lebih Kepala Keluarga terletak di pulau terluar Kabupaten Toli-toli. Menuju tempat itu menggunakan transportasi laut, seperti Speed dan menghabiskan waktu tidak kurang dari satu jam.

Seperti pemberitaan Celebesta.com edisi (20/3/2021) yang berjudul “Potret Pendidikan di Pulau Terluar Toli-toli”. Cerita Nisma Tamala (59) sudah 17 Tahun mengajar di SD Kabetan. Perempuan Paruh Baya itu menuturkan bahwa berbagai suka duka mengajar ditempat itu. Ditengah Pandemi, kata dia, pembelajaran dilakukan secara Luar Jaringan (Luring).

“Tetap belajar Luring, karena memang saya tinggal disini. Tidak bisa juga kalo online karena tidak ada jaringan disini, kalaupun ada peserta didik juga tidak memiliki handphone,” ungkap dia.

Terlihat pula antusias peserta didik saat mengikuti Ulangan Tengah Semester (UTS) kemudian dirinya juga menceritakan kondisi sekolah tempat mengajarnya itu.

“Saya wali kelas 5 dengan jumlah siswa 7 orang, saat ini sementara ulangan tengah semester,” beber dia.

Dalam proses belajar mengajar juga terlihat siswa tidak mengenakan seragam sekolah seperti pada umumnya. “Tidak pake baju sekolah, pake baju biasa saja,” tutur dia dengan dialek setempat.

“Saya berharap kedepan Pemerintah Kabupaten Toli-Toli memberikan perhatian kepada sekolah kami,” harap dia.

Ditambah lagi dengan status guru honorer menjadi hal dilematis di sekolah itu. Dirinya mengatakan bahwa di sekolah itu memiliki dua orang guru berstatus PNS jadi total Guru Tujuh orang.

“Kalau saya pensiun 22 Juli 2020 mendatang, otomatis jumlah guru akan berkurang lagi,” curhat dia saat ditemui Celebesta.com di SD Kabetan, Kecamatan Ogodeide, Kabupaten Toli-toli.

Reportase: Arman Seli

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan