oleh

Hari Pendidikan Nasional

Oleh : Citra Racindy*

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” (Tan Malaka)

Katanya, hari ini adalah hari pendidikan nasional. Namun sebelumnya apakah sebenarnya pendidikan itu? Dan bagaimana sejarah mencatat terkhusus pemerintah menentukan pada tanggal inilah dinyatakan hari pendidikan nasional. Lalu bagaimana pendidikan hari ini? Tulisan ini akan mengulik beberapa pertanyaan tersebut.

Ada beberapa tokoh yang pada akhirnya memberikan definisi tersendiri mengenai apa itu pendidikan. Di dalam buku Filsafat Pendidikan karya Muhammad Anuar. Beliau mengatakan bahwa dalam kajian dan pemikiran tentang pendidikan terlebih dahulu perlu diketahui dua istilah yang hampir sama bentuknya dan sering digunakan di dalam dunia pendidikan. Yaitu pedagogi dan paedagoiek.

Pedagogi berarti pendidikan sedangkan paeda adalah ilmu pendidikan. Istilah ini berasal dari kata pedagogia (Yunani) yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan yang sering menggunakan istilah paidagogos adalah seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno, yang pekerjaannya menjemput anak-anak ke dan dari sekolah.

Paidagogos berasal dari kata paida (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Pernyataan paidagogos yang mulanya berarti pelayan, kemudian berubah menjadi pekerjaan yang mulia. Karena pengertian pai dari (paidagogos) berarti seorang yang tugasnya membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke arah mandiri dan bertanggung jawab.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengatakan bahwa pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia dalam upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Ada juga beberapa tokoh yang memberikan pengertian mengenai pendidikan.

Menurut Carter V Good bahwa pendidikan mengandung pengertian sebagai suatu: (a) proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakatnya; dan (b) proses sosial dimana seseorang yang dipengaruhi oleh suatu lingkungan yang terpimpin (misalnya sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan pribadinya.

Pengertian tersebut juga hampir sama dengan apa yang dikatakan Godfrey Thompson bahwa pendidikan merupakan pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan yang tetap di dalam kebiasaan tingkah laku pikirannya dan sikapnya.

Freeman Butt dalam bukunya yang terkenal Cultur History of Western Education, bahwa pendidikan merupakan kegiatan menerima dan memberi pengetahuan sehingga kebudayaan dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan bermacamnya definisi pendidikan yang telah dijelaskan diatas, terdapatlah ciri dan unsur umum dari sebuah pendidikan.

Pertama, pendidikan memiliki tujuan yang ingin dicapai, yaitu individu yang kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya, baik sebagai seorang individu maupun sebagai warga negara atau warga masyarakat.

Kedua, untuk mencapai tujuan tersebut pendidikan perlu melakukan usaha yang di sengaja atau terencana untuk memilih isi (bahan materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai.

Ketiga, kegiatan tersebut dilakukam di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Berupa pendidikam jakur sekolah (formal) dan pendidikan melalui jalur luar sekolah (informal dan nonformal).

Pengaruh pendidikan dalam jiwa seseorang merupakan salah satu pendorong untuk berkembang. Sedangkan, pendorong utamanya adalah potensi-potensi berupa bakat dan pengalaman yang terpendam pada diri seseorang atau anak didik. Bagaimanapun baiknya rencana pendidikan, hasil dan manfaat bagi anak didik dan masyarakat tergantung pada anak didik dan masyarakat itu sendiri. Demikian juga dengan bakat dan kecakapan seseorang atau anak didik, hanya dapat berkembang dengan baik apabila memperoleh kesempatan sebaik-baiknya dalam pendidikan.

Tepat hari ini, pada tanggal 2 Mei 2021 dengan tahun yang berbeda Indonesia sedang memperingati Hari Pendidikan Nasional yang di singkat HARDIKNAS. Tanggal 2 Mei merupakan tanggal lahirnya seorang tokoh pendidikan di Indonesia yang memberikan pengaruh positif dalam dunia pendidikan yang disebut sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya Indonesia selama era kolonialisme Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Hari nasional ini ditetapkan melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda, dan ia kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Taman Siswa setelah kembali ke Indonesia. Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai menteri pendidikan setelah kemerdekaan Indonesia. Filosofinya, tut wuri handayani (“di belakang memberi dorongan”), digunakan sebagai semboyan dalam dunia pendidikan Indonesia. Ia wafat pada tanggal 26 April 1959. Untuk menghormati jasa-jasanya terhadap dunia pendidikan Indonesia, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Indonesia sendiri dalam memperingati Hardiknas terkhusus di dalam lingkungan sekolah atau universitas pemegang proses pendidikan secara formal melakukan kegiatan upacara bendera dan disambut dengan pidato bertema pendidikan oleh pejabat terkait. Selanjutnya untuk kegiatan setelahnya disesuaikan dengan tema-tema yang telah ada dari masing-masing instansi yang merayakan atau memperingati. Seperti mengadakan perlombaan yang masih berhubungan dengan konsep pendidikan.

Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Secara terstruktur, pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), dahulu bernama Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Depdiknas).

Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama. Saat ini, pendidikan di Indonesia diatur melalui UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.

Dalam proses pendidikan tersebut yang memiliki peran atau yang ikut berperan demi terciptanya pendidikan yang baik dan afektif adalah pendidikan formal. Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar. Terdapat pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang banyak terdapat di setiap masjid, dan Sekolah Minggu yang terdapat di semua gereja. Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.

Yang terlupa sekarang adalah bahwa dalam berbicara pendidikan beberapa masyarakat selalu memfokuskan terhadap pendidikan formal saja. Sebenarnya, setelah kita memahami pengetian terkait pendidikan itu sendiri, berlangsung tidak hanya di sekolah. Kata yang pertama sebuah wadah pendidikan adalah rumah (keluarga), sekolah (guru), masyarakat (seluruh manusia).

Maka dari itu, berbicara pendidikan haruslah lebih luas. Tidak hanya melirik kekurangan yang ada di jalur formal atau lingkungan sekolah. Namun perlu kiranya saling berkolaborasi antara jalur formal, nonformal dan informal untuk memberikan yang terbaik untuk generasi demi kebaikan Indonesia kedepannya. Sebab, yang saat ini lebih dominan mendapat pendidikan adalah anak-anak penerus bangsa yang merupakan calon-calon pergantian tokoh yang memerankan diri dalam mewujudkan tujuan kebaikan dari segala aspek kehidupan.

Harapannya juga dengan kekurangan-kekurangan yang ada dalam saat ini disebuah konsep pendidikan baik formal, nonformal maupun informal dapat kita perbaiki bersama. Pemerataan pembangunan sarana prasarana dalam konsep pendidikan formal dapat terealisasi, kualitas guru dapat ditingkatkan, mengikis sedikit pemikiran bisnis di sekolah dan mengembalikan tujuan pendidikan, serta konsisten kurikulum juga diperlukan dan sebagainya.

Selanjutnya juga orangtua mampu memberikan pendidikan awal untuk para anaknya, sehingga karakter baik mulai terbentuk di lingkungan keluarga, hingga pada akhirnya membantu para guru untuk meningkatkan kualitas sikap yang telah terbina di rumah. Selanjutnya memberikan ilmu-ilmu atau isi (bahan materi) yang telah dikonsepkan disebuah sekolah.

*Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan