oleh

Pentingnya Literasi Bencana Bagi Masyarakat Pasigala

Celebesta.com – SIGI, Diskusi bertajuk “Menguatkan Narasi Media tentang Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim di Lanskap Palu–Sigi–Donggala” berlangsung di Cafe Latoratima, Kabupaten Sigi, Sabtu (13/06/2026).

Pertemuan ini menjadi ruang belajar dan pertukaran pengalaman antara jurnalis dan organisasi masyarakat sipil di Sulawesi Tengah.

Kegiatan tersebut digelar Kelompok Kerja Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim dan dihadiri 25 Jurnalis berasal dari Palu-Sigi dan Donggala.

Kepala Stasiun BMKG Pemantau Atmosfer Lore Lindu, Bariri Asep Firman Ilahi mengemukakan, jika masyarakat di lapangan tidak memahami ancaman lingkungan sekitarnya maka tata ruang terbaik dunia pun tidak dapat mencegah hilangnya nyawa. Literasi mengubah warga dan korban yang pasif menjadi responden pertama yang proaktif.

Asep menyadari bahwa literasi sangat penting bagi masyarakat Pasigala yang hidup diatas tanah yang rawan bencana.

“Penduduk Pasigala 961.124 jiwa dengan risiko multi bencana utama seperti Gempa Bumi, Tsunami dengan kecepatan 3-5 menit, likuifaksi masif dan tanah longsor di lereng terjal”, jelas Asep.

Kemudian menurut Asep di wilayah Pasigala memiliki resiko perubahan iklim berupa hujan ekstrim yang bisa memperparah banjir maupun likuifaksi.

Perlu diketahui bahwa sesar palu koro memiliki jalur patahan aktif sepanjang 500 kilometer.

“Risiko di Palu-Donggala tidak lagi murni geologis. Krisis iklim melipatgandakan daya hancurnya. Mitigasi konvensional (beton abu-abu) tidak cukup bertahan,” terang Asep.

Masa depan wilayah ini, kata Asep bergantung pada pemulihan ekosistem hulu ke hilir yang disahkan secara kaku oleh hukum tata ruang (RDTR) dan dihidupkan oleh literasi yang tanggap.

“Alam adalah benteng pertama kesadaran, kita adalah pertahanan terakhir,” ungkap dia.

Selanjutnya Surya dari BPBD Sulteng mengatakan berdasarkan dokumen kajian resiko bencana, Sulawesi Tengah memiliki 13 potensi bencana.

“Banjir, banjir bandang, cuaca ekstrim, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, likuifaksi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan gunung api, tanah longsor, Tsunami, epidemi/wabah penyakit dan kegagalan teknologi,” urai Surya.

Sementa itu, Neni Muhidin dari Kelompok Kerja Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim menceritakan pengalamannya saat melakukan Ekspedisi Palu Koro 2016 silam.

“Kejadian Tsunami 2018 mirip seperti apa yang kami temukan dalam ekspedisi itu,” singkat Neni.

Menurut Neni bahwa pentingnya dokumen kebencanaan diketahui masyarakat sebagai bahan mitigasi.

Terakhir dari perspektif media, Basri Marzuki mengatakan dirinya belum pernah melihat media melakukan studi-studi khusus tentang kebencanaan.

“Saya berharap kedepan ada kolaborasi seperti itu dan keterlibatan aktif media,” katanya.

Menurut Basri dalam jurnalisme ada jebakan-jebakan klasik, padahal cerita penting itu baru dimulai setelah peristiwa terjadi.

“Saya pikir kita semua merasakan ketika gempa 28 September 2018,” ungkap dia. (AS)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan