oleh

Uji Nyali di Jembatan Gantung Pipikoro

SIGI – Celebesta.com, Jalan setapak dipinggir sungai lariang, terjal dan licin menghiasai perjalanan ke Desa Tuwo Tanijaya, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Jumat (18/09/2020).

Malam hari saya dengan Richard Labiro, seorang teman yang juga Akademisi di Universitas Tadulako itu.

Ia juga aktivis sosial di Yayasan Tanah Merdeka (YTM), di jembatan gantung pertama Desa Pili Mangkujawa diujung Kulawi Selatan, saya harus turun dan berjalan kaki menyusuri malam di jembatan gantung itu.

Selanjutnya di sela-sela perjalanan bertemulah dengan beberapa orang yang mau menjemput kami. Syukur yang ada dalam hati karena saya dan Richard sapaan akrabnya pertama kali ke tempat ini.

Singgah di salah satu rumah teman, disajikan kopi dan makan malam. Sekitar satu jam kami melanjutkan perjalanan.

Sesampai di ujung jembatan gantung masuk Pipikori, terlihat di sebelah kiri ada spanduk yang bertuliskan penolakan  pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan itu.

Malam gelap gulita dengan jarak pandang terbatas, sungai lariang tak terlihat. Melewati jembatan gantung di Pipikoro atau masyarakat setempat juga menyebutnya jembatan gantung Marato  sangat mengerikan diiringi ayunan yang tidak terlalu kuat.

Melewati jembatan gantung tersebut seperti menari-nari, karena tekanan langkah kaki yang penuh dengan ketakutan.

Setelah malam panjang kami lalui, pagi hari saya dan Ricard penasaran dengan ketinggian jembatan itu, akhirnya kami memutuskan untuk melihat. Berdasarkan pantauan, bahwa tinggi jembatan itu sekitar 30 cm.

Orang-orang yang bermukim di Pipikoro, ketika melewati jembatan tak satupun kaku, mereka biasa-biasa saja seperti tidak ada beban.

Saya yang baru saja ketempat itu, menguji nyali karena di bawahnya ada sungai besar yang bermuara di Sulawesi Barat.

Saya melihat anak-anak usia remaja melewati jembatan gantung dengan santai bahkan ada yang memacu gas sepeda motor di papan-papan kecil yang jadi lantai jembatan.

Panjang mencapai 50 cm dag-dig-dug jantung mengiringi langkah kecil penuh kekhawatiran sepertinya hanya kami rasakan, karena baru kali pertama. Sementara orang-orang yang bermukim di Pipikoro dan sekitarnya biasa saja seperti tidak ada masalah berarti bagi mereka.

Reporter: Arman Seli

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

News Feed