Oleh : Edi
(Sekretaris Desa Balumpewa, Kabupaten Sigi)
Perasaan kagum, hati riang saat memandangi keindahan alam. Hutan yang rindang, suara-suara burung yang berkicau dan sinar mentari pagi dari belahan timur menjadikan pegunungan ini menjadi satu lirikkan yang menarik orang-orang untuk berkunjung.
Pegunungan ini terletak disebelah timur Dusun Wilao, Desa Balumpewa, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi yang jarak dari Kota Palu kira-kira 45 Kilometer.
Masyarakat yang ada di pemukiman ini adalah suku Kaili menggunakan dialek bahasa Inde sehingga kerap dikenal sebagai Topoinde. Orang inde mayoritas berladang di sekitar pegunungan dan membuat pemukiman-pemukiman kecil. Kemudian masih menjunjung tinggi aturan yang sudah diwariskan nenek moyang (adat-istiadat).
Begitu juga tentang pengelolaan sumber daya alam, semua telah diatur dan menjadi warisan orang tua terdahulu, misalnya Kavatuna jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti tumpuan batu. Kavatuna menjadi sebagai struktur ruang yang bebatuan dan tidak dikelola.

Kemudian ada pula penyebutan lokal orang Inde batu yang berlapis disebut Kanogo. Biasanya Kanogo memiliki di sela-sela batu dan tebing dan kadang memiliki mata air. Jika ada mata air membuat hutan ini menjadi rimbun.
Perbedaan Kavatuna dengan Kanogo adalah pada dasarnya memiliki bebatuan, hanya saja Konogo lebih memiliki tumpuan batu yang padat atau biasa disebut Dapala, sementara Kavatuna juga bebatuan hanya saja masih ada tanahnya.
Walaupun tidak tertulis kedua tetapi masyarakat menjadikan tempat ini sebagai wilayah konservasi. Walaupun terdapat bebatuan besar, pohon-pohon hidup rimbun di tempat ini kemudian terus dilestarikan.*






Komentar