Oleh : Arman Seli*
DONGGALA – Bangunan sederhana dengan arsitektur lokal, tiang-tiangnya dari kayu bulat dengan jenis kayu Tamodo. Modelnya seperti rumah panggung, dinding setengah sehingga orang yang lewat di pemukiman kecil itu terlihat dengan jelas. Hanya saja satu ruas dari empat persegi itu memiliki dinding (leru/leghu) yang terbuat dari pitate (sompe) dan ditutupi sehingga ada tiga ruas lagi yang terbuka karena hanya dinding setengah.
Lantai terbuat dari bambu (jaula pasa), selain menggunakan kayu Tamodo ada pula beberapa tiang (tinja) memakai bambu (bolovatu) dan atapnya dari seng-seng bekas.
Kemudian ada tungku (talusi) ditiang tengah sebagai tempat memasak jika dibutuhkan atau menghangatkan badan saat malam hari. Memasak di Bantaya seringkali dilakukan di saat pesta dan acara-acara yang berkaitan dengan adat-istiadat.
Kebiasaan orang-orang Pu’u Ntana berladang dengan cara berpindah-pindah sering kali Bantaya juga akan di bangun kembali mengikuti pemukiman. Jumlah rumah dipemukiman tidak banyak antara lima hingga sepuluh rumah saja. Seperti yang terlihat saat ini, rumah-rumah sederhana di bangun disekitar Bantaya. Walaupun rumah dipemukiman sudah ada, masyarakat setempat masih membuat gubuk di ladang sebagai tempat berteduh.

Disitu ada rumah, disitu ada Bantaya. Itu kalimat yang bisa mewakili pandangan orang Pu’u Ntana tentang pentingnya Bantaya.
Bantaya memiliki andil besar dalam keberlangsungan hidup masyarakat Pu’u Ntana, selain menjadi tempat makan bersama, menggelar ritual-ritual adat (juga menjadi pusat informasi). Seperti Nokeso, Nobau, Novunja, Nompaliu dan lainnya.
Orang-orang yang akan melaksanakan pesta perkawinan mulai dari laki-laki melamar perempuan yang ingin dipersunting sampai pada pesta pernikahan, Bantaya menjadi wadah untuk musyawarah.
Bantaya memiliki peran besar di masyarakat, jika ada tamu yang datang diterima di Bantaya, tidur, makan semua dilayani di tempat itu.
Bangunan sederhana yang cukup sederhana itu menjadi pusat informasi kampung terkait dengan hal-hal penting yang ingin disampaikan pada masyarakat. Kemudian juga musyawarah-musyawarah adat, peradilan adat juga dilakukan di tempat itu.*
*Penulis adalah Pegiat Masyarakat Adat.






Saya pernah hadir di desa Powelua dithan 1993. Wkt itu ada program air bersih dari care, water quality Monitoring, staf Kesehatan yg menjadi mitra Kerja Bapak Pa Botin. Aku kangen untuk kembali melihat desa ini, semoga dapat. N berharap org2 Desa Powelua dalam keadaan sehat semua. Aamiin.