oleh

Cara Masyarakat Adat Suku Lauje Hadapi Wabah Penyakit

PARIMO -, Saat ini dunia digemparkan dengan wabah penyakit virus corona (Covid-19) yang kian merebak diberbagai penjuru dunia.

Dilansir dari Kompas.com, Minggu (5/4/2020) pagi, tercatat sebanyak 1.196.944 orang kasus terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 64.580 orang meninggal dunia, dan 246.110 pasien telah dinyatakan sembuh.

Tidak ketinggalan, Indonesia pun tekena dampak virus corona, Minggu (5/4/2020) Pukul 12.00 WIB, jumlah kasus positif berjumlah 2.273 orang. Dari jumlah itu, pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 164 orang, dan meninggal dunia 198 orang.

Beriringan dengan kasus Covid-19 di “Tanah Air”, Sulawesi Tengah berdasarkan data Pusdatina Sulteng, Minggu (5/4/2020) Pukul 15.00 WITA, tercatat 4 orang terkonfirmasi positif, Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 112 orang, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 26 orang, dan 2 orang dinyatakan meninggal dunia.

Dari data diatas persebaran Covid-19 dibeberapa daerah terus mengalami peningkatan, sehingga berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sampai Pemerintah Kabupaten/Kota.

Dalam pencegahan Covid-19 di Sulteng, Gubernur menetapkan kondisi darurat bencana non alam Covid-19 di Sulteng, setelah diketahui adanya pasien positif belum lama ini.

Kabupaten Parigi Moutong, salah satu Kabupaten yang terdampak melakukan berbagai langkah dalam memutus mata rantai Covid-19, dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten, mulai dari pembatasan sosial, bahkan menghimbau kepada seluruh kepala Desa menyisipkan anggaran sebesar 20 persen untuk penanganan Covid-19.

Saat ini, berdasarkan laporan Pusdatina Sulteng, Minggu (5/4/2020) Pukul 15.00 WITA, di Kabupaten Parigi Moutong, tercatat Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 38 orang, ODP baru 4 orang, dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) berjumlah 1 orang.

Di tengah mewabahnya Covid-19, masyarakat memiliki cara tersendiri dalam penanganan pencegahan Covid-19 khususnya bagi masyarakat adat Suku Lauje. Disamping adanya himbauan dari Pemerintah.

Masyarakat adat suku Lauje secara administratif terdaftar dalam wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Terdapat beberapa tempat penyebaran masyarakat adat suku Lauje seperti di Kecamatan Ampibabo, Kecamatan Tinombo, Kecamatan Palasa, sampai ke daerah Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, dan Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-toli.

Kecamatan Palasa termasuk pusat persebaran masyarakat adat suku Lauje terbesar di Kabupaten Parigi Moutong. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik  (BPS) Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2016, jumlah penduduk Kecamatan Palasa, Laki-laki berjumlah 16.329 jiwa, kemudian Perempuan berjumlah 15.574 jiwa, sehingga keseluruhan jumlah penduduk Kecamatan Palasa sebanyak 31.903 jiwa.

Wabah penyakit yang pernah dirasakan oleh masyarakat adat Suku Lauje telah lama sebelum datangnya Covid-19 seperti sekarang. Wabah penyakit itu adalah “Sagala” penyakit berupa cacar yang dapat menular kepada orang lain, bahkan dapat mematikan. Menurut keterangan dari masyarakat adat suku Lauje wabah penyakit Sagala terjadi sekitar tahun 1900.

Hadapi Wabah Penyakit Dengan Kepercayaan dan Pengobatan Tradisional

Sekira Pukul 20.00, malam, orang tua paruh bayah bernama Andi Daemanaga berusia 70 tahun salah satu Tetua Adat Suku Lauje di Kecamatan Palasa, saat ditemui dirumahnya, terselip lintingan rokok di jari sambil menceritakan keadaan masyarakat adat suku Lauje saat terkena Sagala.

Ia mengungkapkan, dahulu Kecamatan Palasa masih masih wilayah Kecamatan Tomini, di Kecamatan Tomini penyakit Sagala terasa menakutkan, penyakit itu menular hampir kepada seluruh masyarakat yang ada, “gota to nate, no’odoya manusia” artinya “banyak orang mati, manusia terdiam”, ungkapnya.

Ia memperkirakan, pada saat itu ribuan orang yang mati akibat Sagala, tidak ada satupun yang bisa keluar rumah, sebab, jika keluar rumah nyawa bisa terancam apabila terkana Sagala.

Sesuai kepercayaan orang tua dulu kata Andi Daemanaga, terdapat suatu cara masyarakat adat suku Lauje menghadapi wabah penyakit dengan kepercayaan yang telah terwarisi secara turun temurun.

Hula’an atau satang, tumbuhan yang biasa ditemui di pinggir pantai bentuknya seperti tanaman ubi jalar. Hula’an itulah menjadi penangkal wabah penyakit untuk tidak masuk ke dalam rumah. Hula’an itu ditaruh di halaman rumah ataupun di pagar rumah, Hula’an menjadi pembatas antara yang tinggal di rumah dan penyakit.

Sebab, Sagala datang secara tiba-tiba tidak ada yang mengetahui darimana asalnya, dokter belum ada di pedesaan, bahkan perawat kesehatan sangat sulit dijumpai pada waktu itu. Dengan begitu kepercayaan adanya kekuatan diluar kemampuan manusia yang diyakini dapat menolong, menjadi sesuatu yang dipegang teguh.

Alhamdulillah, lamai Hula’ane labai owu  ijale sauw noduae, mungkin teule onjo labai nopogutu teule sagaruwe kikira no’opusoma manusia” artinya “Alhamdulillah, dari Hula’an itu tidak ada sama sekali penyakit yang datang setelah itu, mungkin kalau tidak dibuatkan juga seperti itu sudah habis manusia,” ujarnya.

Hula’an belum banyak diketahui masyarakat setempat, terlebih lagi kepercayaan tradisional masyarakat adat suku Lauje lambat laun mulai ditinggalkan, padahal Hula’an itu hidup di pinggiran pantai dan mudah untuk didapatkan.

Daemanaga juga menuturkan, orang yang terkena penyakit Sagala hanya dilakukan pengobatan secara tradisional yakni ditiup dengan bacaan mantra-mantra oleh dukun kampung.

Labai pernah to lulu sinubiee, labai owu suntikan, bi sinubanga to lulu, ayoee, pertolongan dari siyopulata’ala saga manusia labai nate,senga nongondo to neijal” artinya “Tidak pernah orang dulu di suntik, yang ada hanya di tiup-tiup, begitu saja, pertolongan darai Tuhan sebagian manusia tidak maninggal, langsung sembuh orang yang sakit,” tuturnya.

Daemanaga menjelaskan, kondisi masyarakat yang terdampak Sagala, hampir serupa dengan virus corona saat ini. Setiap orang satu sama lain tidak bisa berdekatan, sebab wabah itu dapat menjangkiti orang lain, sehingga banyak sekali orang yang berdiam diri di rumah karena takut akan terkena Sagala.

Namun, kepercayaan terhadap Hula’an sebagai penangkal wabah penyakit sudah jarang terlihat digunakan oleh masyarakat, sebagian kecil masyarakat adat suku Lauje yang masih meyakini hal itu, masih memakainya sampai hari ini. Sebab dari penuturan Tetua Adat Suku Lauje tersebut, wabah penyakit Sagala hampir sama dengan wabah virus corona (Covid-19) yang kini familiar ditelinga masyarakat. Berbagai upaya menangkal Covid-19 lebih modern ketimbang saat wabah Sagala merebak di masyarakat.

Social distancing atau pembatasan sosial sebagai langkah pencegahan Covid-19 lebih akrab dilakukan masyarakat dengan slogan dirumah saja, berbeda dengan orang dulu yang meyakini sesuatu kepercayaan terhadap kekuatan yang dapat memberikan pertolongan, sehingga dipekarangan rumah ditaruh media yang bisa menghindarkan orang dari wabah penyakit.

Kepercayaan itu merupakan simbolisasi yang memiliki makna pada penganutnya, sebab kepercayaan tidak timbul begitu saja, tentu melalui proses yang disepakati bersama oleh masyarakat adat suku Lauje yang telah mengakar dari generasi ke generasi berikutnya.

Sebagaimana pernyataan filsuf Jerman Ernst Cassirer bahwa manusia adalah “animal symbolicium”, segala sesuatu (objek) yang ada di dalam kehidupan manusia mempunyai makna simbolik. Makna-makna ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan dihadirkan dan disepakati dan dijadikan simbol.

Simbol disini dipahami sebagai tanda yang mengandung kesepakatan makna. Oleh sebab itu, perilaku manusia, baik sebagai individu maupun kelompok bertitik tolak dari makna-makna simbolik dari objek itu tadi.

Tumbuhan Tradisional Sebagai Cara Menyembuhkan Penyakit

Tumbuhan tradisional menjadi cara masyarakat adat suku Lauje untuk menyembuhkan penyakit. Berdasarkan hasil penelitian salah seorang Alumni Universitas Tadulako, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Sosiologi, Yakub terhadap To Bela yang merupakan masyarakat adat suku Lauje yang bertempat tinggal di pegunungan Desa Bambasiang, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong.

Dalam penelitiannya, berjudul Pengobatan Tradisional Dalam Komunitas To Bela Etnik Lauje, ia mendapatkan beberapa bentuk pemanfaatan tumbuhan oleh komunitas To Bela. Tercatat 32 jenis tumbuh-tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat-obatan. Bagian dari tumbuhan yang digunakan antara lain daun, batang, buah serta umbi. Dari 1 sampai 8 jenis tumbuhan berkhasiat sebagai obat penyakit dalam yaitu:

  1. Kumis kucing “vurucumi seseng” (Orthosipon aristatus)
  2. Pulai “Songkalan” (Alstonia scholaris)
  3. “Canggore Ombok” (Porophylum ruderale)
  4. Kunyit putih “Unyit meas (Curcuma manga)
  5. Jarak pagar “Balacai” (Jatropa curcas)
  6. Wenang “Bintanag” (Kelinhovia hospita)
  7. Kencur “Su’ul” (Kaempferia galanga)
  8. Kunyit Hitam “Unyit meitong” (Curcuma caesia)
  9. Tomat “Tamate” (Solanum lycopersicum), obat luka bakar
  10. Jeruk Nipis “Lemo” (Citrus Aurantifolia), obat batuk
  11. Jahe “Loiya” (Zingiber Officinale), obat batuk
  12. Pulutan “Dolupang” (Urena Labata), obat bisul
  13. Sirih “Dolo’e” (Piper Betle), obat untuk wanita
  14. Palem Merah “Lugus Megang” (Areca Vestiaria), obat luka
  15. Daun Nangka “Long Nanga”, obat mata
  16. Daun Pepaya “Long Pepaya”, obat malaria
  17. Buah Kelapa ” Hua Niu”, obat racun
  18. Buah Aren “Hua Aren”, obat racun
  19. Bengkudu “Bangkudu” (Morinda Catrifolia), obat darah tinggi
  20. Jarak Merah “Palan Me’gang” (Jatropha Gosivifolia), obat rematik
  21. “Kayu Jawa” (Lannea Grandis), obat luka
  22. Takelan “Jo’jonga” (Cromolaena Odorata), obat luka luar
  23. “Molambulas” (Dysoxylum nutans), obat penyakit kulit
  24. Benahong “Tambalu’Pa” (Rhapidopora Tetrasperma), obata sakit perut
  25. Tembelakan “Tingkanavu” (Verbenaceae), obat batuk
  26. “Sensegat” (Rubus Mollucanus), obat sakit perut
  27. Biduri “Bungakonde” (Calatropis Gigantea), obat sakit perut
  28. Jambu Biji “Jambu” (Psidium Guajava), obat sakit perut
  29. “Sariyudo” (Blumea Sp), obat panu/kurap
  30. Sembung “Tangkilapon” (Blumea Balsaminifea), obat panu/kurap
  31. Ketepeng Cina “Kalamau” (Senna Alata), obat penyakit kulit
  32. Kunyit “Unit” (Curcuma Longa), obat penyakit kulit

Itulah sejumlah tumbuhan-tumbuhan berkhasiat sebagai obat yang dipakai hingga saat ini oleh masyarakat adat suku Lauje khususnya To Bela.

Jika ditelusuri lebih mendalam mengenai keyakinan masyarakat komunitas To Bela terhadap proses pengobatan tradisional merupakan salah satu bentuk keyakinan yang menjadi warisan dari leluhur yang tetap masih dipertahankan.

Dari beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang dijadikan obat tradisional, tentu memiliki kemampuan dapat mencegah dampak Covid-19, seperti kunyit, jahe merah, jambu biji, yang dapat meningkatkan imun tubuh.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan medis pengobatan tradisional seperti itu, sudah jarang sekali terlihat. Sebab, hampir semua masyarakat adat suku Lauje, apabila mengalami sakit, baik itu penyakit dalam maupun penyakit luar langsung melakukan perawatan di Puskesmas.

Oleh : Miftahul Afdal

Penulis Merupakan Pegiat Budaya dan Mahasiswa Sosiologi Universitas Tadulako.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan