PALU – Celebesta.com, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Tengah dan Partai Hijau Indonesia (PHI) Gelar diskusi di salah satu Warkop di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (10/11/2020). Diskusi itu dihadiri oleh peserta dari kalangan Mahasiswa, Aktivis Lingkungan dan Jurnalis.
Adapun yang menjadi Pembicara dalam diskusi adalah Aris Bira (Direktur WALHI Sulteng), Neni Muhidin (Nemu Buku), Dewi Rana Amir (Direktur LIBU Perempuan), Richard Labiro (Partai Hijau Indonesia) dan Nasrun (Ombusman Sulteng) tidak bisa hadir secara langsung dan menyampaikan materinya via online. Kemudian menjadi Moderator yakni Juli, merupakan Aktivis WALHI Sulteng.
Aris Bira, pembicara pertama mengatakan, Kota Palu seringkali mengidentifikasi dirinya sebagai kota jasa, tetapi di waktu bersamaan menjadi wilayah pertambangan.
Momentum Pemilihan Kepala Daerah 2020, pihaknya menginginkan ada Calon Walikota Palu yang mengangkat isu lingkungan ke publik, karena menurutnya beberapa kandidat berafiliasi langsung dengan pertambangan.
Ia mengatakan selain isu lingkungan, adapula Pembangunan Pascabencana. “Siapa Kandidat yang bisa mengendorse semua isu ini”, kata dia dengan nada tanya.
“Hanya Aristan yang detail berbicara tentang pembangunan pascabencana yang tertuang dalam delapan programnya”, ungkapnya.
Selain itu, Neni Muhidin mengatakan dalam sebuah riset membuktikan bahwa bangunan di Kota Palu sejak beberapa tahun silam tumbuh menjadi Kota dengan definisi abu-abu. “Bicara lingkungan maka kita sedang membicarakan kerusakan”, kata Neni.
“Kota ini semacam mengingkari bahwa dia di atas patahan, kajian geologi hanya di atas kertas”, sambungnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dewi Rana mengatakan bahwa masyarakat gerah, belum selesai persoalan di tenda pengungsian sudah menebang pohon.
Lebih lanjut Dewi sapaan akrabnya, mengungkapkan pentingnya membuat agenda aksi yang konkrit. Banyak ibu-ibu berjualan di jalan Kartini, kehilangan sumber livelihood.
Dewi juga memghimbau penting untuk mengorganisir diri. Menurutnya bicara lingkungan bicara semua elemen masyarakat.
Ia juga kesal dengan penebangan pohon yang terjadi di sejumlah titik di Kota Palu seperti di Jalan R.A Kartini dan Garuda, karena kata dia, Pohon ditebang tanpa alasan realistis dan konkrit.
Selanjutnya, Ricard Labiro mengajak semua kalangan aktif bicara Politik Hijau dan Lingkungan.
“Dalam Pilwalkot 2020 di Kota Palu harus melihat kandidat yang lahir dari gerakan lingkungan dan berkomitmen menjadi bagian dari gerakan politik hijau”, tutur Richard.
Kemudian pembicara terakhir, secara terpisah Nasrun (Via Online) mengatakan perlu pengawasan terkait pengelolaan lingkungan.
“Secara filosofis, lingkungan tidak bisa dipulihkan kecuali dilakukan penataan kembali”, kata dia.
Reporter: Arman Seli






Komentar