Oleh : Citra Racindy
(Ketua KOHATI Cabang Persiapan Deli Serdang)
Betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku.
Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri.
Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira.
Siapakah kini pahlawan hati, pembela bangsa sejati….
(Ismail Marzuki –Gugur Bunga)
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak akan pernah lupa akan jasa para pahlawannya (Bung Karno). Mereka adalah sosok yang tangguh, tak gentar membela rakyat Indonesia dan rela bercucuran darah untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Itulah sekilas opini tentang “pahlawan” pada sebagian orang. Di kampung-kampung para pemuda membaca sajak Chairil Anwar “Krawang-Bekasi” sebagian ada juga yang membaca novel “Di Tepi Kali Bekasi” dari Pramoedya Ananta Toer.
Setiap tahun kita memperingati Hari Pahlawan 10 November. Seharusnya, peringatan Hari Pahlawan dapat dijadikan sebagai cermin atau refleksi tentang pengorbanan, keteladanan, dan keteguhan untuk menggapai harapan masa depan dengan terus bekerja dan bekerja dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera sebagai cita-cita perjuangan bangsa yang termuat dalam sila kelima Pancasila yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
10 November Hari Pahlawan?
Kita sudah saling mengetahui bahwasannya hari mengenang para pahlawan ditetapkan pada tanggal 10 November pada setiap tahunnya. Tak lupa bahwa bertetapan pada tanggal 10 November 1945 terjadi sebuah peristiwa pertempuran hebat di Surabaya. Dimana para tentara dan milisi Indonesia yang pro-kemerdekaan berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia. Maka melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 ditetapkan sebagai Hari Nasional. Pertempuran Surabaya menjadi perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pertempuran dimulai pada 1 Maret 1942, ketika tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa dan tujuh hari kemudian, 8 Maret 1942 tentara Belanda menyerah tanpa syarat berdasarkan Perjanjian Kalijati. Dilansir wikipedia, tiga tahun kemudian Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki.Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah keluarnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibrkan diseluruh wilayah Indonesia. Gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru/Hotel Yamato (sekarang bernama Hotel Majapahit) di jl. Tuntungan no. 65 Surabaya. Sekelompok orang Belanda dibawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada malam tanggal 18 Agustus 1945 mengibarkan bendera Belanda. Keesokan harinya para pemuda melihatnya menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia.
Perwakilan RI berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya untuk menurunkan bendera Belanda yang berada di gedung Hotel Yamato. Namun, Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda. Hingga akhirnya perundingan mulai memanas. Ploegman mengeluarkan pistol dan perkelahian terjadi. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda. Merobek bagian birunya dan menggerek ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Pada tanggal 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan. Pasukan sekutu mendapatkan perlawanan dari pasukan dan milisi Indonesia. Pertempuran ini mencapai waktu sekitar tiga minggu. Sekitar 16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Pertempuran berdarah di Surabaya memakan ribuan korban jiwa tersebut menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melakukan perlawanan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban. Pada 10 November ini kemudian do kenang sebagai hari Pahlawan oleh Republik Indonesia.
Pahlawan bukan sekadar dikenang!
Peringatan Hari Pahlawan tak cukup sekadar memasang bendera satu tiang penuh mengikuti upacara kebesaran yang dipersiapkan. Belum lagi biaya besar yang harus dikeluarkan, apalagi jika biaya pelaksanaannya direkayasa disana-sini sehingga membengkak luar biasa. Yang terjadi bukan lagi menghargai jasa-jasa pahlawan, melainkan sesungguhnya penghinaan dan bahkan pelecehan terhadap para pahlawan.
Dewasa ini, sebagian besar kalangan hanya mengenang jasa-jasa para pahlawan. Alngkah bijkanya jika generasi penerus ini mau belajar banyak dari pahlawan, karena dengan begitu kita menjadi generasi yang menghargai waktu, memiliki semangat nasionalisme dan memiliki solidaritas yang kuat. Kita sebagai generasi penerus harus mampu memaknai hari pahlawan. Pertama, kita harus menjadi generasi yang cerdas mengetahui sejarah Hari Pahlawan. Selain menambah wawasan, kita juga bisa berbagi informasi kepada orang yang membutuhkan. Kedua, ikut memeriahkan ucapan Selamat Hari Pahlawan di media sosial sebagai bentuk bahwa kita telah bersimpati atas hari bersejarah Indonesia dan merupakan upaya mengingatkan antargenerasi lainnya. Ketiga, melakukan perbaikan diri. Untuk mencapai perubahan yang besar kita harus membenahi diri sendiri. Semaksimal mungkin kita melakukan intropeksi, misalnya melawan sifat malas, melawan kebodohan, memberi teladan minimal untuk adik-adik atau keluarga. Bukankah hal itu bagian dari perjuangan?
Dalam setiap orang perlu ditumbuhkan solidaritas kebangsaan. Suku-suku, latar belakang agama, kepercayaan dan kebudayaan yang hidup dimulai dari Sabang sampai Merauke.harus kita pandang sebagai saudara setanah air. Tawuran pelajar dan tawuran warga tidak boleh lagi terjadi. Selanjutnya kita perlu menaati hukum. Menjadi generasi yang berprestasi dimulai cakupan nasional hingga internasional. Dan tak kalah penting kita harus menjaga perstauan dan kesatuan Negara Republik Indonesia. Harus di ingat, bahwasannya kita bukan lagi memperjuangkan kita lebih kepada mempertahankan!.
Pahlawan Masa Kini.
Bagaimana karakter pahlawan era sekarang? Dalam konteks kekinian tentu harus ada perubahan dalam memaknai nilai-nilai kepahlawanan. Tidak relevan lagi mengaitkan kepahlawanan hanya dengan mengangkat senjata dan berperang. Kita harus menyesuaikan perkembangan zaman. Makin rumit dan beragamnya persoalan bangsa sekarang ini, kta harus berpartisipasi dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran. Sebelumnya sudah diisyaratkan sejak awal oleh pendiri negeri ini bahwa” Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.
Pahlawan adalah orang yang membuat pahala, yang menanggalkan ego pribadi untuk mengabdi, berkontribusi, memberi manfaat dan maslahat bagi umat. Semua orang bisa dikatakan sebagai pahlawan ketika ia sudah mampu bermaslahat bagi umat. Nilai-nilai kepahlawanan yang dibutuhkan sekarang ini adalah rela berkorban memperjuangkan keadilan dan kebenaran, mementingkan kepentingan umum, memberi nilai tambah bagi lingkungan sekitar, mampu membawa perubahan dan berani mengungkap kejujuran. Dan nilai ini harus tetap hidup dalam sanubari, meskipun zaman berganti, regenrasi terjadi itulah perlunya edukasi.
Kiranya tulisan ini dapat membangkitkan jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri kita. Dan harapan kedepannya aku, kamu dan dia mampu menjadi pahlawan masa kini yang memegang teguh nilai-nilai kepahlawanan yang diharapkan masyarakat Indonesia. Sebab semua orang bisa menjadi pahlawan. Dari hal terkecil hingga terbesar, dimulai menjadi pahlawan untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, sampai cakupan negara. Baik dari bidang pendidikan, kesehatan dan semua bidang kemaslahatan umat.






Komentar