Celebesta.com – Donggala, Pu’u Ntana (Puntana) sebuah Kampung di Dataran Tinggi, Kabupaten Donggala. Kini Puntana dihuni sekitar 16 Kepala Keluarga. Jumlah Kepala keluarga kerapkali berubah karena adanya perpindahan dari kampung ke kampung yang masih masuk dalam Wilayah Adat Nggolo.
Disatuan Mukim itu terdapat rumah-rumah panggung berukuran kecil dan saling berdekatan. Dindingnya terbuat dari bambu yang dianyam (sompe), kemudian atap menggunakan daun sagu ada pula seng. Kebiasaan berpindah-pindah masih menjadi bagian hidup mereka.
Orang Puntana hidup damai dan penuh kekeluargaan. Ramah selalu terpancar diwajah saat menyambut orang yang berkunjung. Jangankan dewasa, anak-anak pun berkunjung ke tempat itu akan dilayani dengan baik.
Disatu waktu dalam bahasa unde, Mepopo warga setempat bilang ” Ane Mabote Se’i, Mau Ngana Unde Mamate.” kata dia dengan bahasa setempat.
Jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “walaupun hanya anak-anak yang datang kesini tidak akan mati,” Makna dari pernyataan itu bahwa siapapun yang datang ke Puntana akan merasa aman dan nyaman tanpa gangguan.
Orang-orang Pu’u Ntana tidak memiliki perbedaan menonjol baik bentuk tubuh, warna kulit dengan kelompok masyarakat lainnya yang bermukim di Kaki Gunung Kamalisi (Gawalise).
Hanya saja di pegunungan Kamalisi memiliki beberapa bahasa pengantar dalam percakapan sehari-hari,Seperti; bahasa Da’a, Inde, dan bahasa Tado.
Sementara di Puntana adalah penutur bahasa Unde. Walaupun demikian beberapa bahasa tersebut banyak kesamaan kosa-kata.
Migrasi Lokal dan Geneologi Orang Puntana
Berdasarkan pengakuan Mebune bahwa orang tua mereka berasal dari Volau, Peropu dan Bolonggima.
Peropu kini menjadi bagian dari Kabupaten Sigi. Orang-orang peropu lainnya kini bermukim di Dusun Batambaya, Desa Kalora, Kabupaten Sigi.
Sementara orang-orang Bolonggima kini mendiami lingkungan Salena, Kelurahan Buluri, Kecamatan Palu Barat sekarang Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.
Dua Kelompok besar ini memiliki kedekatan keluarga, antara Bolonggima dan Peropu. Kebiasaan berladang secara tradisonal seringkali mereka harus berpindah-pindah.
Masih mengutip pernyataan Mebune bahwa Puntana menjadi pemukiman sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
“Nasaemo Totua Neto’o Se’i, Maghiamo satu Mpundena” (Sudah lama orang tua mendiami tempat ini, sekitar seratus tahun yang lalu).
Bahkan kata mebune, sudah lebih dari 10 generasi mereka berada di wilayah itu. Hal ini juga dibuktikan oleh sebuah makam Leluhur (Dayo Madika Langa) yang diakui sebagai Totua di tempat itu.
Artinya persebaran orang-orang Bolonggima ke Puntana sudah terjadi ratusan tahun lalu dan secara kewilayahan adat, Pu’u Ntana adalah bagian dari wilayah adat Nggolo.
Nggolo juga merupakan penyebutan lain orang-orang Bolonggima dan Puntana bahkan masyarakat yang bermukim di Dusun Sintulu, Desa Lumbumamara, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala juga mengatakan bahwa mereka berasal Bolonggima.
Selain itu beberapa orang yang bermukim di Doriamporanggu, Desa Salungkaenu juga mengatakan bahwa mereka berasal dari Bolonggima.
” Kami juga orang Bolonggima,” ungkap Ima, warga kampung Doriamporanggu beberapa waktu lalu.
Jika merujuk keterangan mebune bahwa yang mendiami Puntana saat ini adalah orang Bolonggima yang bermigrasi ke puntana ratusan tahun yang lalu.
Dari beberapa bagian diatas sudah dijelaskan persebaran orang Puntana. Hal tersebut secara sederhana bisa memberikan jawaban terkait asal-usul orang Puntana dalam pendekatan silsilah atau Geneologi.
Merujuk pada kampung-kampung kecil yang disebutkan dibagian sebelumnya bahwa mereka memiliki entitas besar yang sama.
Perpindahan mereka dari Bolonggima ke Puntana, Sintulu dan Doriamporanggu merupakan ruang jelajah yang mereka sebut dengan Wilayah adat Nggolo.
Menelusuri Bahasa Maya di Kampung Puntana
Bahasa Maya atau bahasa Mpopali/ Mpokato adalah bahasa yang digunakan saat panen padi ladang (nokato).
Sebelum jauh membahas bahasa Maya
Noha, warga puntana pernah bilang
saat menaman padi ladang mereka tidak menggunakan pupuk.Bahasa Maya menjadi do’a bagi kesuburan tanah yang dikelola.
“Pada saat menanam diawali oleh totua secara simbolis dan diikuti oleh para peladang lainnya. Totua yang menanam disebut topantilovu, nantilovu yang diawali dengan do’a ,” ungkap Noha.
Masih menurut Noha, dalam berbagai aktivitas mereka mimpi menjadi penanda baik buruknya tempat yang dijadikan tempat berladang dengan harapan selalu diberikan kesehatan (ko’o vuku) oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” tambah dia.
Noha juga menjelas kosa kata dalam bahasa Maya saat panen padi ladang, seperti; Mokato, Nompundu (panen padi ladang), Do’i (bakul), Punde (padi ladang), Obo (rumah atau gubuk), Bisa (air), Dantoko (lesung), Ntomaleungu (alu), Modompu (memasak), Manji’o (makan), Ronto (sarung), Nomongo (bersirih), Pose (jagung), Daula (lantai), Naku’u pompeno (mengantuk), Mompiirimo (tidur), Kayavu (kapur), Mongo (pinang), Tosado (tembakau), dan Todoli (kelapa).
Menurutnya masih banyak kosa kata dalam bahasa maya termasuk konteks penggunaan Kalimat saat bertutur.
Peteda riobo (masuk kerumah) biasa digunakan untuk mengajak seseorang masuk ke dalam rumah. Bahkan menyapa seseorang atau sekelompok orang dan mengajaknya untuk singgah di rumah.
Selanjutnya, kamai manji’o (mari makan) seringkali digunakan untuk mengajak orang atau sekelompok orang untuk makan bersama.(AS)






Komentar