oleh

SulBar Miliki Estimasi 5.504 kasus TBC, Baru Berhasil Ditemukan Hingga Juni 2026 1.675

Cellebesta.com – MAMUJU, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat bersama Polda Sulawesi Barat semakin memperkuat kolaborasi dalam percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC). Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan koordinasi yang berlangsung di Aula Andi Depu, Kantor DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, Kamis 02 Juli 2026.

Pertemuan dipimpin oleh Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, didampingi Sekretaris DKPPKB Sulbar, dr. Marintani Erna Dochri, serta dihadiri Direktur Binmas Polda Sulbar Kombes Pol Prasetya Sejati, Kabid Dokkes Polda Sulbar yang lama, Kombes Pol. dr. Effri Susanto, Kabid Dokkes Polda Sulbar yang baru, dr. Elvis Jefferson, jajaran Direktorat Binmas Polda Sulbar, tim teknis DKPPKB, serta pengelola Program Tuberkulosis Provinsi Sulawesi Barat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi Tuberkulosis (GARATTA TBC), yang sejalan dengan visi “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera” di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan TBC.

Berdasarkan data semester pertama tahun 2026, Sulawesi Barat memiliki estimasi 5.504 kasus TBC, sementara hingga Juni 2026 telah berhasil ditemukan 1.675 kasus. Di sisi lain, estimasi kontak erat pasien TBC mencapai 7.249 orang, namun baru 365 orang yang telah memperoleh Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Data tersebut menunjukkan masih besarnya ruang yang harus dikejar melalui penguatan penemuan kasus, investigasi kontak, dan pemberian TPT.

Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, mengatakan bahwa percepatan eliminasi TBC tidak mungkin hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk jajaran kepolisian yang memiliki jaringan hingga tingkat desa melalui Bhabinkamtibmas.

“Kolaborasi dengan Polda Sulawesi Barat merupakan langkah strategis untuk mempercepat penemuan kasus, investigasi kontak, serta memastikan masyarakat yang berisiko memperoleh Terapi Pencegahan Tuberkulosis. Semakin cepat kasus ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang kita memutus rantai penularan,” ujar dr. Nursyamsi.

Ia menambahkan, DKPPKB Sulbar bersama Polda akan memperkuat sistem monitoring berbasis data agar setiap capaian dapat dipantau secara berkala.

“Kami akan membangun mekanisme pelaporan yang sederhana namun efektif, mulai dari laporan harian, laporan bulanan, hingga dashboard pemantauan bersama. Dengan satu data dan satu arah koordinasi, seluruh jajaran dapat bergerak lebih cepat dan tepat sasaran,” tambahnya.

Dalam forum tersebut, Direktur Binmas Polda Sulbar Kombes Pol Prasetya Sejati menekankan pentingnya penyusunan pola kerja sama yang lebih operasional. Evaluasi berkala akan dilakukan bersama untuk mengidentifikasi capaian, kendala, serta langkah percepatan di wilayah dengan indikator yang masih rendah.

Ia juga mengusulkan agar analisis dan evaluasi (ANEV) penanganan TBC menjadi agenda strategis yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sulawesi Barat, sehingga seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama dalam mengejar target eliminasi TBC.

Selain itu, Polda Sulbar mendorong penyelenggaraan pelatihan dan orientasi bagi seluruh Bhabinkamtibmas mengenai deteksi dini TBC, investigasi kontak, serta pendampingan masyarakat. Penguatan kapasitas tersebut akan dilengkapi dengan penyusunan buku saku, dashboard pemantauan berbasis wilayah kerja Bhabinkamtibmas, serta sistem penghargaan bagi personel dan tenaga kesehatan yang menunjukkan kinerja terbaik.

Kabid Dokkes Polda Sulbar yang baru, dr. Elvis Jefferson juga menyoroti pentingnya keterlibatan rumah sakit dalam mempercepat penemuan kasus TBC.

“Banyak pasien TBC pertama kali teridentifikasi di rumah sakit. Karena itu, rumah sakit harus menjadi bagian penting dalam jejaring penanganan TBC agar seluruh pasien yang ditemukan dapat segera ditindaklanjuti hingga tuntas,” ujarnya.

Sementara itu, tim teknis DKPPKB Sulbar menegaskan perlunya validasi data antara Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan kondisi lapangan agar seluruh capaian tercatat secara akurat. Koordinasi yang lebih intensif antara puskesmas, dinas kesehatan kabupaten, Bhabinkamtibmas, serta jajaran Polres di enam kabupaten juga menjadi perhatian untuk memastikan implementasi kerja sama berjalan optimal.

Melalui penguatan sinergi ini, DKPPKB Sulbar dan Polda Sulbar optimistis percepatan eliminasi TBC dapat berjalan lebih efektif. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus, memperluas cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis, memperkuat pelaporan berbasis data, dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih dekat kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan Sulawesi Barat yang Maju dan Sejahtera.(*)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan