Celebesta.com – DONGGALA, Dari jauh terlihat kepulan asap menghiasi langit di pemukiman Dusun Puntana, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala layak awan disaat mendung tiba. Jalan yang terjal butuh kesabaran melaluinya.
Sesampai di pemukiman kecil itu asap makin terlihat jelas, bambu-bambu yang tersandar di kayu yang melintang, kemudian di bawahnya terlihat tumpukkan bara api. Ternyata masyarakat adat Puntana sedang memanggang makanan khas, penduduk disatuan mukim itu menyebutnya lopi (sejenis nasi jaha atau nasi lemang).
Lopi adalah terbuat dari beras jenis pulut yang dibungkus daun nasi (tava lopi) kemudian dimasukkan ke dalam bambu dan selanjutnya diisi air lalu dipanggang.
Jenis daun yang digunakan membungkus pangan lokal itulah yang disebut daun nasi atau juga disebut (nta’u lopi). Sementara jenis bambu yang digunakan merupakan bambu dipakai memasak sejenis nasi jaha atau nasi lemang.
Canda tawa dan saling menyapa menghiasi kebersamaan. Kerjasama terjalin diantara mereka maupun orang-orang dari luar kampung yang tiba ditempat itu untuk mengikuti prosesi Nompaliu sebagai ucapan rasa syukur pada Sang Pencipta atas hasil panen padi ladang.
Noha salah seorang masyarakat Dusun Puntana saat memanggang dengan serius, sesekali ia menyatukan bara agar apinya kembali menyatu. Uniknya ia memegang api itu dengan tangan tanpa alas, tak sedikitpun merasakan panas atau sengatan si jago merah di anggota tubuhnya.
“Ini namanya lopi (sejenis nasi jaha atau nasi lemang),” kata dia dengan dialek bahasa setempat kepada Celebesta.com, Jumat (9/7/2021).
Menurut Noha, semua orang yang memiliki padi ladang wajib membuat lopi yang bertujuan untuk disantap bersama di Bantaya (rumah adat) di acara Nompaliu.
Selain Noha, warga lainnya bernama Amusa yang terlihat sibuk memanggang lopi dan sesekali ia mengatur bara api. Ia juga tetap menyapa siapa saja yang baru tiba di kampung tersebut untuk mengikuti proses Nompaliu.
“Lopi sudah menjadi hal yang wajib pesta panen (ucapan syukur) seperti ini,” ungkap Amusa sambil tertawa kecil.
Menurut Amusa, lopi nantinya akan disantap secara bersama-sama di balai pertemuan adat (Bantaya). Selain itu juga bahwa pesta panen padi ladang (Nompaliu) juga memiliki berbagai rangkaian prosesi ritual lainnya sebagai rasa syukur antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.
Seperti melihat hati ayam yang kemudian dipercaya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang memiliki panen padi ladang. Ayam itulah dijadikan lauk pauk dan disantap dengan nasi bambu di malam hari sebelum pesta panen semalam suntuk (balia) dengan menggunakan bahasa Manuru.
Manuru dipercaya sebagai sang hyang dari khayangan. Puji-pujian dalam syair balia dilantunkan dengan interkasi simbolik sesajian yang menggunakan dulang berisi pinang, sirih, gambir, kapur (sambulu gana) diletakkan di tikar terbuat dari pandan hutan (Naso) serta kelengkapan lainnya.
Masyarakat Puntana percaya bahwa padi ladang memiliki jiwa layaknya manusia, sehingga Nompaliu juga bisa diartikan menjaga kekerabatan antara manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan Sang Pencipta. Hal itu dilakukan sebagai harmonisasi antara tiga aspek tersebut. (AS/mk)







Komentar