Celebesta.com – DONGGALA, Padi ladang (Punde) bukan hanya sekedar menanam kemudian memanen, tetapi berbagai rangkaian ritual juga dilakukan. Mulai dari menentukan lokasi ladang sampai pada pesta syukuran (Nompaliu).
Untuk memenuhi berbagai kebutuhan di ucapan syukur (Nompaliu) untuk hasil panen menjadi beras maka Nombayu dilakukan sebagai aktivitas yang melibatkan berbagai klasifikasi usia muda dan tua bergotong-royong.
Nombayu adalah mengolah gabah menjadi beras dengan cara tradisional. Iya, caranya sederhana menggunakan lesung (nonju) dan alu yang selanjutnya dilakukan mulai satu orang bahkan sampai lima orang.
Satu lesung bisa melibatkan dua hingga tiga orang untuk menumbuk gabah padi ladang. Masing-masing orang akan memiliki satu alu dan menumbuk padi ladang secara bergantian, kadang kala bunyi dari alu menghasilkan nada unik dan menjadi harmonisasi yang indah didengar.
Untuk mendapatkan beras yang bersih selanjutnya di tapis. Nombayu semacam menjadi ajang interaksi sosial antara pemuda satu dengan lainnya.
Tak jarang saling bertukar informasi, canda dan tawa menghiasi aktivitas itu. Terlihat pula bagi yang berjam-jam nombayu keringat menghiasi sekujur tubuh.
“Dika Pombayu Sanupa yang artinya ayo tumbuk lagi (Padinya),” kata Osi disela-sela Nombayu saat ditemui Celebesta.com, Sabtu (10/7/2021).
Osi adalah seorang anak muda di Dusun Puntana, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Sesekali ia bergurau dengan temannya yang yang juga ikut nombayu.
Berdasarkan pantauan Celebesta.com di lapangan, sejumlah pemuda nombayu, adapula anak-anak usia sekolah dasar yang bermain disekitarnya. (AS)







Komentar