oleh

Memilih Sepenuh Hati, Dilayani Setengah Hati

Oleh: Felix Torae Rore

(Musim Pemilu, Kami Ikut, Setelahnya, Kami tidak tahu lagi)

POSO – Yah, kalimat di atas merupakan satu kesimpulan dari dinamika masyarakat pedesaan mengenai momen pemilu. Mungkin kita bisa melihat secara langsung partisipasi mereka mengikuti momen kampanye sampai pada waktu pencoblosan.

Namun jika berbicara mengenai momen Pilkada dengan satu keluarga masyarakat petani pedesaan, tak lebih mereka hanya memilih lalu tidak ada hal lain lagi yang perlu dilakukan atau perdulikan.

Berbeda jauh dengan para tim sukses, yang selalu punya hubungan erat dengan para kepala daerah yang mereka bantu ketika momen kampanye berlangsung.

Sangat disayangkan jika ada satu masyarakat miskin yang ikut memilih, namun dalam rangka membangun komunikasi dengan kepala daerah sangat minim.

Tentu dampak yang ditimbulkan bukan saja kesejahteraan yang minim diberikan, namun si kepala daerah juga mana tahu soal kehidupan masyarakatnya.

Momen kampanye, masyarakat kecil selalu menyampaikan keinginannya sesederhana mungkin, namun apakah lantas itu dikabulkan ketika sudah duduk kursi pemerintahan?

Selesai pemilihan, petani ke kebun. Lantas tidak pernah lagi bahas soal kandidatnya. Sesekali bingung mengapa sewaktu kampanye Tim Sukses begitu sungguh-sungguh ingin mengabulkan keinginan mereka. Tapi setelah itu, semua sirna, janji tertelan bersama air liur.

Kami minta akses jalan di perbaiki, tapi justru izin tambang diurus. Kami minta fasilitas kesehatan diperbaiki, mereka malah sibuk urus bisnis keluarga.

Kami minta pendidikan gratis untuk anak-anak kami, itu tidak mungkin dikabulkan!

Sebagai petani miskin, kami apalah. Ketika momen pemilihan, suara kami di cari-cari sampai di kebun. Tapi ketika mereka sudah menang, lantas mereka tidak pernah bahas nasib kami lagi.

*Penulis merupakan Anggota Serikat Petani Katu (SPK), Kabupaten Poso.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed