Ad Banner

Kedua Mempelai yang akan mengikuti Prosesi Nikah Adat menuju Baruga, Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso (Foto: Arman Seli)

Sah!!! Begini Nikah Adat di Lembah Behoa

 |   |  106 Views

POSO – Celebesta.com, Iring-iringan sejumlah orang tua dan mempelai laki-laki menuju rumah mempelai perempuan (Membua).

Tujuannya adalah untuk menjemput mempelai perempuan ke Baruga di Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Tradisi ini, sejak lama dilakukan orang Katu di Lembah Behoa. Kali ini yang menjalani Nikah Adat atau dalam bahasa Behoa disebut Mohamboko iada adalah pasangan Afrial Tonius Torae dan Marsita Kawura.

Berbagai rangkaian acara dilakukan semisal memberikan mahar dari pihak laki-laki ke pihak perempuan dan kedua pasangan yang melangsungkan Nikah Adat diberi nasehat oleh tokoh adat dengan tujuan dalam kehidupannya kelak dijalani dengan sebaik-baiknya.

Adapun yang menjadi nasehat pernikahan tidak lepas bagaimana menjalani kehidupan yang baik, damai dan penuh kasih sayang dalam rumah tangga.

Selain itu juga ada penanda tanganan berkas Nikah Adat kedua mempelai dan saksi nikah adat. Kemudian hal menarik lainnya adalah ketika dibacakan keluarga-keluarga dekat mempelai laki-laki dan perempuan. Proses itu bertujuan agar kedua mempelai saling mengenal keluarga satu sama lainnya.

Orang Behoa di Katu juga percaya jika sudah menjadi suami istri maka tidak boleh menyebut nama mertua beserta keluarga dekatnya, sehingga memperkenalkan nama-nama keluarga itu menjadi bagian penting.

Kedua Mempelai melaksanakan Nikah Adat Alfrial Tonius Torae (Laki-laki) dan Marsita Kawura (Perempuan), (Foto: Arman Seli).

Dalam nikah adat juga ada kapak (Wahe) dan parang (Ahe) bermakna bahwa ketika menjalani hidup rumah tangga kedua benda tersebut memiliki simbol kekuatan untuk berladang atau berkebun.

Kapak dan parang merupakan bagian dari mahar laki-laki yang diberikan kepada perempuan. Kapak dan parang merupakan hal utama dari proses Nikah Adat. Jika semua hal dipenuhi tetapi tanpa kedua benda tersebut itu dianggap tidak sah.

Menurut Azar Torae, selaku tokoh Adat Katu bahwa kapak dan parang adalah hal yang inti dan harus dipenuhi oleh mempelai laki-laki saat di temui Celebesta.com belum lama ini, di Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso.

“Kedua benda tersebut sebagai bekal menjalani kehidupan yang disahkan melalui pernikahan adat”, beber Azar Torae.

Hal itu juga bermakna orang-orang Katu tidak bisa dipisahkan dengan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya. Ketergantungan atas apa yang ada di sekitarnya, sangat erat  hubungan antara manusia dan alam.

Jika mempelai laki-laki dan perempuan yang akan menikah memiliki kedekatan keluarga maka dilakukan ritual karumpi.

“Dahulu menggunakan Kerbau Putih tetapi sekarang boleh menggunakan Ayam Putih, telur ayam dan beras”, ungkap Azar.

Sementara itu, menurut Joni Pantoli parang juga memiliki makna bahwa kedua pasangan sudah bisa melakukan hubungan suami istri (Tibaa). Kemudian kapak bermakna kedua mempelai boleh bersenda gurau (Molaluita).

“Selain kapak dan parang ada juga Gelang yang terbuat dari tembaga (Kara) bermakna kedua mempelai boleh memadu kasih atau Perera”, pungkas dia.

Reporter: Arman Seli

Editor: Redaktur

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *