SIGI – Celebesta.com, Koro dalam bahasa Uma (Topouma) berarti Sungai. Sementara ‘Uma’ artinya ‘tidak’, kemudian Topouma adalah orang atau kelompok penutur bahasa Uma. Selanjutnya Topouma menempati wilayah Kecamatan Pipikoro dan Kulawi Selatan dan beberapa tempat lainnya di Kabupaten Sigi.
Secara filosofis, Topouma berpandangan bahwa manusia memiliki hubungan kultural dengan sumber daya alam disekitarnya.
Sungai (Koro) dipercaya sebagai Ibu (Tina) karena menjadi sumber penghidupan di saat bertani atau berladang memiliki hasil yang kurang atau gagal panen dan di saat tertentu yang dianggap mendesak maka masyarakat di sekitar Sungai Lariang akan mendulang emas atau dalam bahasa Uma disebut Mangemo.

Elsi E. Lunda, seorang perempuan di Dusun Wahi, Desa Pili Makujawa, Kabupaten Sigi saat ditemui Celebesta.com belum lama ini mengatakan bahwa mereka menjaga alam sekitarnya.
“Alam itu hidup dan punya nyawa, jika dirusak alam akan marah”, kata Elsi E. Lunda.
“Seandainya PLTA Salo Pebatua tetap dibangun, alam bisa saja marah karena itu bagian dari merusak”, lanjut dia.
Selain itu, orang Uma percaya bahwa Hutan atau Wana dalam bahasa setempat sebagai Bapak.
Hal ini membuktikan bahwa hubungan Topouma dengan Sumberdaya Alam sangat erat.
“Kalau kita merusak alam itu artinya kita durhaka dengannya”, ungkap dia.
Reporter: Arman Seli






Komentar