SIGI – Celebesta.com, Pagi itu, lalu lalang orang di kampung beraktivitas. Ada yang pergi ke ladang adapula sekedar bercerita di depan halaman rumah, Sabtu (19/9/2020). Begitulah sepintas giat orang-orang di Desa Tuwo Tanijaya, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi.
Saya menghadiri pelatihan paralegal di kantor Desa Tuwo Tanijaya, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi. Sekumpulan orang tua laki-laki sebagian besar memakai topi dan beberapa orang perempuan menjadi peserta pelatihan itu.
Termasuk juga Kepala Desa Tuwo Tanijaya ada di tempat itu. Adapun yang jadi peserta masyarakat Desa Tuwo Tanijaya dan Desa Pilimakujawa, Kecamatan Kulawi Selatan.
Waktu itu bertepatan dengan Pelatihan Paralegal di Kantor Desa Tuwo Tanijaya dan pembentukan Organisasi Rakyat (Petani) tujuannya untuk mengorganisasikan kaum tani di tempat tersebut.
Pelatihan yang melibatkan pengacara berpengalaman dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Palu.
Suara-suara Penolakan PLTA Pebatua sesekali terdengar. Saya juga melihat semangat perlawanan mulai tumbuh di tempat itu.
Kemudian juga saya diberi kesempatan untuk menjawab satu pertanyaan tentang organisasi rakyat.
Ahmar merupakan pemateri mempersilahkan dan menjawab tentang hal apa saja yang dibutuhkan organisasi.
Saya mengatakan dari sekian poin yang disampaikan ada yang juga tidak kalah penting yaitu anggota organisasi.
Dari salah satu jendela di Kantor Desa Tuwo Tanijaya saya melihat perlawanan telah muncul, ketakutan berevolusi menjadi satu keberanian menyampaikan pendapat.

Di kesempatan lain, saya diajak oleh salah seorang warga desa Tuwo Tanijaya pergi ke belakang rumah dan ternyata disitu ada ribuan pohon kopi yang tumbuh subur.
Papa Faren begitu ia disapa, dirinya adalah pemilik kebun kopi itu. Salah satu alasannya menolak PLTA Pebatua karena ia lebih memilih merawat kebunnya. Lelaki muda itu memiliki cita-cita besar kedepan untuk kopi yang ia tanam. “Saya ingin punya warung kopi di Palu”, kata dia.
Merawat kopi lebih baik daripada menerima PLTA Pebatua. “Saya pernah kerja diperusahaan, yang jadi pekerja adalah orang-orang yang memiliki keahlian”, lanjut Papa Faren.
“Apakah kita disini memiliki keahlian itu”, tanya dia.
“Lebih baik saya jadi petani, tidak ada yang paksa kerja”, ungkap dia.
Beberapa kalimat yang sempat terekam dibenak saya disampaikan oleh petani kopi tersebut.
Saya hanya mau bilang, panjang umur perlawanan. Semoga Tanah subur pipikoro akan tetap terjaga dan selalu memberi keadilan ekologi bagi anak manusia yang hidup dikemudian hari.
Reporter: Arman Seli.






Komentar