Ad Banner

Seorang anak di Puntana, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah sedang menunjukan ikat padi hasil panen sebelumnya (Foto: Arman Seli).

Punde: Cadangan Pangan di Tengah Pandemi

 |   |  109 Views

DONGGALA – Celebesta.com, Punde atau padi ladang yang menjadi unggulan masyarakat Pu’u Ntana atau Puntana di Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala.

Menjadi bagian penting dalam ketahanan pangan di tengah pandemi (Covid-19). Berdasarkan pantauan Celebesta.com, Minggu (6/9/2020) di pemukiman kecil Puntana, sebelah barat Kecamatan Banawa Tengah. Masyarakat setempat masih memiliki stok yang bisa bertahan hingga satu tahun kedepan.

Seperti yang terlihat di lumbung (logo) berbagai jenis dan varietasnya masih menghiasi pondok berukuran kecil itu.

Menurut informasi yang dihimpun media ini bahwa punde tidak setiap saat di konsumsi, tetap juga ada singkong atau ubi kayu, jagung dan membeli beras dari pasar.

Punde berfungsi untuk cadangan pangan biasanya konsumsi jika ada tamu-tamu yang dianggap penting dari luar pemukiman.

Menurut pengakuan Mebune bahwa sejauh ini mereka masih memegang tradisi menanam padi ladang.

Punde atau padi ladang jenis pulut (ketan) hasil panen masyarakat tahun sebelumnya merupakan bukti ketahanan pangan bagi masyarakat Puntana, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah (Foto: Arman Seli).

Menurutnya juga ketika menanam padi ladang ada hal-hal yang harus dilakukan, mulai dari membuka lahan (nantalu) hingga Panen (Nokato).

Iya Ane No Punde, Nantalu ghu, Naliungga sa’a ane Nompadu Kayu Nolopi Mo. (Iya, kalau menanam padi ladang, awalnya membuka lahan dulu. Setelah itu membersihkan kayu-kayu yang sudah di tebang kemudian dibuatkan adatnya atau Nolopi)”, jelas dia.

Naliungga Sa’a Vomo, Da Naghiapa to Nipovia, Ane Polopi Botu Tolunggani nipovia sampe Nompaliu. (Setelah itu, masih ada yang dilakukan, Nolopi dilakukan sebanyak tiga kali sampai pada pesta syukuran atas panen)”, kata dia.

Sejauh ini, Mebune  menanam dua jenis padi dan  beberapa varietas. “Ane ni tuja, Naghia Koyo, Naghia Vo Pulu.” (yang ditanam, ada jenis Koyo dan ada juga ketan atau Pulu).

Sementara itu, Mebune juga mengatakan bahwa varietasnya juga bermacam-macam. “Seperti patirangga, tomai, sikuru batu dan masih banyak lainnya”, tutup dia. (AS)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *