BANGKEP – Celebesta.com, Kebutuhan bahan pangan lokal yang diolah menjadi makanan oleh masyarakat adat bersumber dari berkebun dengan cara bercocok tanam disekitar hutan dan kampung adalah sumber pangan yang tetap tersedia di masa-masa pandemi Corona Virus (Covid-19) ini.
Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Daerah Banggai Kepulauan, Jemianto Maliko, kebiasaan yang sudah turun temurun ini makin berkurang.
“Sudah seharusnya masyarakat adat (Desa Osan, Labotakandi dan Lemelu) Suku asli Sea-Sea mempertahankan kekuatan pangan lokal. Jangan biarkan pergeseran pangan lokal terjadi,” ungkapnya.
Wabah virus seperti sekarang ini di wilayah masyarakat adat suku sea-sea banyak yang tidak mengerti soal penyebaran dan tanda-tandanya.’’Masyarakat adat sedikitpun tidak punya pemahaman tentang bagaimana penyebaran Covid-19, dan ini akan mempengaruhi wilayah adat,” Ungkap Jemi baru-baru ini.
Suku Sea-Sea yang ada dipedalaman wilayah Bulagi Selatan dalam masa pandemi Covid-19 ini menjadi kelompok yang rentan. Karena walaupun mungkin bertempat tinggal jauh dari kota yang menjadi pintu masuk penularan Covid-19 tetapi dengan keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah tersebut akan menjadikan pengobatannya sangat sulit dilakukan.
Ketua PD AMAN Dearah Banggai Kepulauan Jemianto Maliko, mengatakan masyarakat adat suku sea-sea memiliki kearifan dalam mengelola kebun dan hutan yang merupakan wilayah adatnya. Contoh berupa pola menanam berbagai jenis tumbuhan di kebun serta tidak menggunakan pupuk ataupun pestisida kimia.
“Salah satu contoh pertanian tradisional adalah berpindah-pindah dengan tanaman pokok ubi. Mereka akan pindah membuka lahan baru setelah kesuburan tanah menurun. Terkadang beberapa tahapan dilakukan saat membuka lahan baru dimulai dengan upacara adat lalu dilanjutkan dengan dengan pemilihan lokasi, pembesihan lahan, penebangan pohon, pembakaran lahan dan lain-lain,” tutur Jemi. (AS)






Komentar