oleh

Mahasiwa IAIN Palu Bersuara untuk Kampus Di Sulteng Dalam Pandemi Covid-19

“Karena kegiatan ekonomi orang tuanya terdampak virus corona, banyak mahasiswa meminta untuk UKT semester depan digratiskan atau setidaknya diberi keringanan”.

Afandi salah satu mahasiswa IAIN Palu bersuara untuk bagamaina UKT dipikirkan oleh pihak petinggi kampus atau Rektor yang ada di perguruan tinggi di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Dihentikannya kegiatan perkuliahan karena virus corona menimbulkan banyak masalah. Selain kuliah online yang dianggap tidak efektif, masalah lain yang muncul adalah tentang bimbingan skripsi dan UKT. Banyak peserta didik yang menempuh skripsi merupakan mahasiswa tingkat akhir, karena kegiatan bimbingan yang tersendat mereka terancam kehabisan waktu. Katakanlah diperpanjang waktu mereka, mereka tetap saja diharuskan membayar UKT.

Permasalahannya adalah banyak yang kesulitan membayar UKT semester depan. Karena kegiatan ekonomi orang tuanya terdampak virus corona, banyak mahasiswa meminta untuk UKT semester depan digratiskan atau setidaknya diberi keinganan.

Apakah Mungkin?

Sebenarnya, bisa pimpinan Perguruan Tinggi diberi otoritas penuh untuk mengambil keputusan terkait kebijakan yang paling pantas dan sesuai untuk tiap universitas. Keputusan ada di tangan para rektor universitas di mana kalian menjalani kuliah.

Tapi seharusnya memberikan potongan atau menggratiskan UKT adalah kebijakan yang harus diambil. Dampak virus corona yang masif membuat semua orang kesulitan dalam hal ekonomi. Banyak usaha yang mengalami penurunan pemasukan, dan beberapa perusahaan memotong gaji para karyawan. Praktis ini membuat banyak keluarga harus benar-benar mengatur uang yang mereka punya untuk bertahan hidup.

Beberapa prediksi tentang kapan wabah Corona di Indonesia akan berakhir masi simpang siur. Belum tentu juga dalam 2-3 bulan kedepan wabah ini membaik dan kegiatan ekonomi berlangsung normal. Situasi yang dihadapi ini datang mendadak, tidak ada negara yang siap menghadapi ini, apalagi keluarga.

Pemotongan atau penggratisan UKT ini sebaiknya tak hanya untuk para mahasiswa tingkat akhir saja, tapi untuk semua kalangan mahasiswa. Dampak yang dirasakan tidak mengenal kalangan. Jika tidak dipotong atau digratiskan, mahasiswa merasakan dua kerugian. Pertama semester sekarang yang berlangsung tidak optimal. Kedua, semester depan pun tidak menjamin akan berjalan normal. Jika tetap harus membayar sesuai angka normal, beban yang harus ditanggung benar-benar berat.

Saya berharap ada kampus yang mulai menginisiasi untuk memberi keinganan atau menggratiskan UKT kepada mahasiswanya. Begini, kampus-kampus belakangan seakan membuat kebijakan jika ada yang memulainya. Contohnya, tunjangan kuota untuk para pegawai dan mahasiswa untuk kegiatan kuliah online. Jika satu kampus memulai tindakan tersebut, kampus lain kemungkinan akan mengikuti.

Bijaknya memang universitas tidak mengambil keuntungan atau merencanakan pembangunan dalam waktu dekat. Melihat keadaan yang ada, tidak elok rasanya tetap memaksakan mahasiswa membayar dengan penuh. Di titik ini, logika kapitalisme harus dikesampingkan dan mengedepankan kemanusiaan.

Memotong atau menggratiskan UKT seharusnya bukanlah beban bagi universitas. Universitas pun terkena dampak dari corona, dan harusnya terlintas juga dipikiran mereka bagaimana dampaknya ke mahasiswa. Pembangunan atau hal lain yang tidak mendesak harusnya tidak menjadi alasan untuk memaksa mahasiswa membayar penuh.

Saat ini adalah saat paling tepat untuk para petinggi universitas untuk mendengar suara mahasiswa. Dan mereka juga harusnya tau, ini bukan perkara uang UKT, tapi juga perkara kemanusiaan.

Oleh: Afandy

Penulis merupakan Mahasiwa IAIN Palu Jurusan Ekonomi Islam.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan