oleh

Olongian, Kepala Suku Dari Tanah Lauje

Oleh : Miftahul Afdal

Setiap masyarakat adat memiliki kepala suku dengan penyebutan di masing-masing wilayah, dalam suatu masyarakat adat jabatan kepala sangat dihormati dan disegani.

Menyandang status sebagai kepala suku tidak sembarangan, ada kriteria tertentu, seperti seseorang yang paling kuat diantara kelompoknya dan memiliki kekuatan supranatural yang membedakan dirinya dengan yang lain. Biasanya yang dalam pergantian kepala suku berdasarkan garis keturunan.

Kekuasaan kepala suku dijalankan secara tradisional, kehidupan sosial diatur oleh hukum adat. Seperti halnya dengan kepala suku masyarakat adat Lauje yang disebut Olongian yang bertempat di Kabupaten Parigi Moutong.

Meneurut catatan sejarawan Ismail Palabi Olongian Siavu Dusunan (sekarang Tinombo) memiliki kemasyhuran, hal itu dapat dibuktikan dengan ucapan syair yang selalu disampaikan Olongian di depan khalayak ramai dimana saja rakyat dikumpulkan masa itu. Adapun syair berbunyi seperti:

To Tinombo To u, To Sambali, To u, To Tomini To u, artinya penduduk Tinombo rakyatku, penduduk Sambali rakyatku, penduduk Tomini rakyatku, To artinya orang. U artinya kepunyaanku, sedangkan Sambali artinya penduduk gunung. To Sambali, To Tomini, To Tinombo Tunufu Semboto-boto, artinya penduduk Sambali, Tomini, Tinombo hidup serumpun berasal dari Tinombo

Berdasarkan catatan sejarah diatas bahwa kekuasaan Olongian sangat luas dari pegunungan Tinombo sampai pegunungan Tomini (sebelum pemekaran kecamatan).

Selanjutnya, sebelum kaum penjajah Belanda masuk di daerah ini termasuk kekuasaan pemerintahan tradisional Olongian yang berkedudukan di Tinombo dan Bobalo dalam sistem pemerintahannya menempatkan seorang Jogugu (tangan kanan Olongian) yang ditempatkan oleh Olongian Siavu Dusunan di Palasa membantu urusan pemerintahan sehari-hari. Peranan Jogugu di Palasa memerintah beberapa Desa-desa yang sekarang ada di Kecamatan Tomini yakni Desa Ogotumubu, Desa Tomini, Desa Tingkulang, Desa Ulatan, Desa Eeya, Desa Bobalo, dan Desa Baina’a dan Desa Sidoan.

Namun ketika penjajahan kolonial Belanda masuk, maka kekuasaan Jogugu hilang dan sekaligus berakhir pula sistem pemerintahan tradisional yang berpusat di Tinombo Siavu Dusunan. Belanda dalam sistem pemerintahannya membentuk kerajaan-kerajaan kecil disetiap daerah yang didudukinya yaitu kerjaan Moutong di Tinombo

Pada masa keadaan itulah Olongian dan pemangku adat lainnya segera melaksanakan rapat menyusun taktik perlawanan kepada Kompeni Belanda dengan menokohkan seorang panglima perang yang bernama Tombolotutu dengan pasukan pengawalnya yang dipimpin oleh Raka. Taktik perlawanan mereka dengan cara berpindah-pindah medan perdarahanan dengan mengambil wilayah Tojo Una-una, lalu ke Moutong, Lobi, Taopa, Bolano, Tomini (Benteng Posulinang dan Ponggimbalang), Tinombo dan benteng terakhir pasukan Tombolotutu di gunung Sojol Bou.

Pengaruh Olongian dewasa ini, masih seperti pada masa kemasyhurannya, sebab, sosok Olongian yang dapat mengangkat seorang pemimpin khususnya keturunan raja dan terlihat peran Olongian ketika dalam pelaksanaan adat istiadat yang memiliki peranan penting.

Masyarakat adat suku Lauje dalam pusaran modernisasi

Beberapa pandangan mengatakan, tantangan masyarakat adat dewasa ini berjibaku dengan determinasi arus modernisasi yang begitu pesat, jika sedini mungkin masyarakat adat tidak menyiapkan diri lambat laun akan tergusur dengan sendirinya.

Modernisasi secara sederhana merupakan suatu proses perubahan atau transformasi dari keadaan tradisional menuju ke masyarakat yang lebih maju, sehingga kehidupan tradisional dalam suatu masyarakat dapat ditinggalkan untuk menuju ke perubahan yang lebih maju.

Pertanyaannya apakah pengaruh modernisasi dapat menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat adat suku Lauje? Sebab, masyarakat adat suku Lauje adalah masyarakat yang memiliki perilaku dan tindakan yang tradisional.

Masyarakat adat suku Lauje memiliki kepercayaan dan keyakinan secara utuh terhadap adat istiadat yang disalurkan secara turun-temurun oleh para leluhur. Menurut Isaacs (1975:29-52) pendekatan primodial melihat identitas etnis, budaya, agama, ras, bahasa, dan lain-lainnya adalah kuat atau stabil, tak bisa diubah, yang terbentuk melalui proses yang panjang sehingga hanya bisa hilang dalam waktu yang panjang pula.

Etnis dan apa yang menjadi bagian-bagiannya tersebut, seperti religi dan kepercayaan, adalah sesuatu yang given atau terwariskan. Pada dasarnya, dalam pandangan ini, identitas etnis dilahirkan dari sentimen primodial, kesadaran budaya yang terbangun di dalam komunitas etnis melalui institusi dasar, seperti keluarga, keyakinan kelompok, loyalitas dimana individu lahir sebagai anggotanya

Pelaksanaan adat istiadat Momasoro yaitu pelepasan perahu yang berisi hasil bumi dari masyarakat adat suku Lauje sebagai bentuk ucapan terimakasih kepada Tuhan semesta alam yang memberikan kesuburan. Tidak dapat dilepaskan karena telah menjadi kepercayaan bagi masyarakat adat suku lauje, adapun pengambilan keputusan melalui hukum adat mengartikan ketaatan masyarakat adat suku Lauje terhadap hukum adat yang pegang sejak dahulu, hal ini memberikan penguatan terhadap kehidupan tradisional masyarakat adat suku Lauje yang tidak bisa dihilangkan oleh pengaruh modernisasi.

Kemudian, Vanhanen (1999) manyebutkan nepotisme etnis adalah suatu perlakuan khusus anggota kelompok etnis melebihi anggota etnis yang lain. Anggota-anggota kelompok etnis cenderung memperlakukan dengan baik anggota kelompok mereka melebihi yang bukan anggota sebab mereka lebih menutup hubungan kepada kelompok mereka daripada di luar mereka (ekslusif). Perspektif ini mampu menjelaskan bahwa modernisasi yang menurut sebagian kalangan mampu menghapus peredaran etnisitas ternyata tidak sama sekali.

Masyarakat adat suku Lauje cenderung tertutup dengan pengaruh dari luar, tidak serta merta menerima sesuatu yang bukan menjadi kebiasaan. Penting bagi masyarakat adat suku Lauje untuk terus mempertahankan kehidupan secara tradisional karena itu menjadikan sebuah identitas yang membedakan antara masyarakat adat lainnya.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Sosiologi Universitas Tadulako.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan