oleh

Mendirikan Sekolah Adat Sebagai Upaya Menjaga Tradisi Leluhur

Celebesta.com – SIGI, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Tengah sosialisasi pembentukan Sekolah Adat kepada sejumlah Pengurus Daerah dan Kader Masyarakat Adat bertempat di Latoratima Resto, Kamis (28/12/2023) Kabupaten Sigi.

Dalam sambutannya, Ketua AMAN Sulteng, Zikran menjelaskan bahwa hingga saat ini pihaknya mencatat kurang lebih 214 Komunitas Masyarakat Adat yang tersebar di wilayah Sulawesi Tengah.

“Dari sekian Komunitas Masyarakat Adat tersebut ada yang masih terjaga eksistensinya namun adapula Komunitas Adat yang hampir punah,” ungkap Zikran.

Menurut Zikran penting untuk mendirikan sekolah adat di komunitas masyarakat adat. Hal itu dilakukan untuk memastikan agar tradisi leluhur tetap terjaga dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Silvy Motoh, Direktorat OKK PB AMAN sebagai fasilitator kegiatan mengatakan untuk memastikan keberlangsungan keberadaan Komunitas Masyarakat Adat yang ada di Sulawesi Tengah salah satunya dengan merawat pengetahuan-pengetahuan dan kearifan lokal, adat-istiadat dan bahasa lewat pendidikan adat kepada generasi penerus Masyarakat Adat.

Langkah-Langkah Mendirikan Sekolah Adat. (Sumber: YPMAN dan Kedeputian IV Urusan Pendidikan Adat PB AMAN)

“Sosialisasi ini dilakukan sebagai upaya memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang apa dan bagaimana membangun Sekolah Adat di Komunitas-komunitas Masyarakat Adat,” terang Silvy.

Silvy menegaskan bahwa sosialisasi pendidikan adat dilakukan untuk mendorong kader-kader menginisiasi berdirinya Sekolah Adat di Komunitas-Komunitas Masyarakat Adat yang ada di Sulawesi Tengah.

“Kita berharap selesai kegiatan ini, akan (ada) sekolah-sekolah adat yang dibentuk di Sulawesi Tengah,” harap Silvy.

Selanjutnya Marolop Manalu, Kedeputian IV Urusan Pendidikan Adat Pengurus Besar AMAN selaku narasumber mengantar diskusi dengan menonton dua film yang berjudul Menghadapi Kepunahan, Mempertahankan Kehidupan dan Kembali Ke Kampung.

Dua film karya Lifemosaic itu secara garis besar menceritakan tentang cara mempertahankan pengetahuan-pengetahuan adat dan memastikan bahwa masyarakat adat tetap ada dimuka bumi.

Marolop mengungkapkan saat ini tantangan kita selain tumpang tindih kebijakan pemerintah ada juga sebagian dari kita (masyarakat adat) terlibat dalam berbagai kepentingan Pemodal.

“Apa yang hilang dari kita, sehingga kita membiarkan apa yang ditinggalkan oleh leluhur dan kita semakin jauh,” ungkap Marolop dengan nada tanya.

Menurut dia, harus ada inisiatif yang muncul dan kembali berpikir seperti para leluhur yang terbukti arif dalam mengelola lingkungan.

Leluhur kita berpandangan bahwa Alam itu bukan sekedar komoditas, melainkan sebagai bagian dari kehidupan.

“Saat ini, kita sedang kejar-kejaran karena para tetua yang memiliki pengetahuan itu sudah uzur,” sambung dia.

Sehingga, kata Marolop penting untuk belajar kembali dengan orang-orang tua di komunitas adat untuk menyambung kembali pengetahuan yang sudah ada sejak lama.

Kemudian, Rukmini Paata Toheke merupakan pendiri sekolah adat ” Hikola Ada” Ngata Toro banyak berbagi cerita tentang proses di komunitas adat saat mendirikan sekolah adat dan melakukan proses pembelajaran.

“Anak-anak sekolah adat itu kami ajarkan tradisi, hal yang paling sederhana misalnya dalam mengawali pembicaraan dibuka dengan Tabe, Tabe, Tabe,” kata Rukmini.

Perempuan yang akrab disapa Tina Ika itu juga mengatakan bahwa pentingnya pendidikan adat sebagai bagian dari menjaga kehidupan.

“Kami di Ngata Toro memahami hidup dalam tiga hal yang disebut dengan Taluhi Katuvua atau Tungku Kehidupan,” jelas Dia.

Taluhi Katuvua adalah dasar dalam menjaga hubungan dengan sang pencipta Alam Semesta dan Sesama Manusia. (AS)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan