oleh

Quarter Life Crisis Generasi Millenial

Oleh : Citra Racindy, S.Pd

Kegagalan adalah memar, bukan tato. Jon Sinclair

Dalam fase hidup yang dipatokan pada umur, mungkin manusia hidup di dunia dengan rentan umur maksimal 80-100 tahun. Di Quarter Life Crisis yang istilahnya atau berada di usia baru seperempat perkiraan 18-31 Tahun. Usia ini membuat manusia sering merasa galau, resah, takut, bahkan sampai ada yang merasa putus asa serta depresi. Lalu banyak yang bertanya bagaimana cara mengelola dan mengatasinya?

Rasa takut dan rasa khawatir itu manusiawi. Tidak ada orang yang tidak takut. Namun ada kiat yang harus dilakukan untuk mengelola atau paling tidak membendung rasa takut itu sendiri. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun pernah merasakan hal itu. Sejatinya kita tidak boleh menghilangkan rasa takut yang muncul pada diri kita sendiri, karena hilangnya rasa takut dapat mengakibatkan ketidak hati-hatian (kecerobohan). Tetapi dalam situasi yang sama kita juga tidak boleh atau tidak perlu membesarkan rasa takut tersebut.

Jika dalam situasi atau perasaan takut, cobalah untuk lebih mengenali apa sebenarnya yang sedang ditakuti? Tentu pasti banyak sebab, misalnya saja takut gagal. Apalagi di zaman sekarang ini dengan mudahnya mengakses media social yang memperlihatkan begitu gamblang perkembangan teman-teman dan orang lainnya. Sehingga yang terjadi adalah membanding-bandingkan diri sendiri dengan pertumbuhan dan perkembangan orang-orang. Sudah sukses, tabungannya ratusan juta, sudah beli mobil baru, beli rumah, memiliki pasangan serta keturunan dan lainnya.

Kembali lagi, cobalah melihat sekian banyak orang setelah umur 50 tahun baru sukses. Jadi bukan tentang usia yang menentukan hal itu. Ketika ada orang sedang mengalami kegagalan kemudian depresi itu adalah kesalahan besar. Kenapa tidak mencontoh semut? Memikul yang jauh lebih besar dari badannya, sekian kali jatuh, jatuh, jatuh dan akhirnya berhasil. Ada seorang ulama yang bernama Ibnu Hajar, beliau mengalami kegagalan di bangku sekolah. Lalu kemudian beliau pergi ke sungai dan melihat tetesan air yang sedikit demi sedikit menimpa batu sampai pada akhirnya batu tersebut berlubang. Dari penglihatan itulah beliau pada akhirnya berpikir dan sadar, saya kalau seperti ini bisa berhasil. Dan kenyataannya beliau berhasil menjadi ulama besar Ibnu hajar, Putra Batu.

Jadi, jangan terlalu memperbesar rasa takut yang belum tentu terjadi. Bisa jadi bahkan yang kita takuti sama sekali tidak terjadi. Sehingga ada pesan dari Abi Quraish Shihab yang mengatakan kalau anda merasa takut akan sesuatu hal yang akan terjadi, rasa takut anda itu lebih berbahaya dan lebih besar dampaknya daripada ketakutan bila terjadi. Disinilah peranan optimisme dan disinilah peranan kita untuk kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. Bahkan sekalipun rasa takut yang tidak bisa dihindari, misalnya seseorang yang memasuki usia lansia, energi yang sudah tidak kuat lagi, tidak bisa jalan lagi atau semacamnya. Hal itu yang kiranya tidak bisa dihindari kalau kita punya keinginan untuk memiliki umur Panjang. Siap menerima segala resikonya.

Dalam menghadapi rasa takut haruslah beriringan dengan iman. Agama mengatakan kaitkan dirimu kepada Tuhan sang pemilik kehidupan. Sembari melangitkan doa ya Allah kalau memang ketetapan-Mu harus terjadi (kejadian yang tidak menyenangkan) maka biarkanlah aku terjatuh. Tapi mohon kiranya aku terjatuh di tumpukan jerami. Maka dari itu, optimis dan berdoalah. Karena jika rasa optimis itu sudah hilang dari diri kita tidak ada artinya hidup ini. Dan jangan pernah untuk tidak mentoleransi diri. Misalnya saja degan mengatakan diri sendiri saya ini enggak berguna, saya ini tidak bisa di andalkan. Hal seperti inilah yang dikatakan tidak mentoleransi diri sendiri. Ada orang yang menginginkan lulus cumlaude ternyata lulusnya cukup. Langsung down, putus asa bahkan sampai rendah diri.

Orang-orang yang tidak mentoleransi dirinya sendiri, maka kegagalannya di bawa mati. Percayalah semua orang pernah gagal, toleransi dirimu pecut supaya bisa lebih berhasil. Jangan tanyakan mengapa? Atau jangan beri tanda tanya pada kegagalan. tapi berilah titik dan melanjutkan kalimat selanjutnya. Atau melanjutkan strategi dan langkah berikutnya. Terima kegagalan tersebut dengan lapang hati dan jadikan pengalaman yang berharga. Supaya kita tidak mengidap rasa takut dan keresahan yang berlebihan cobalah kembali megingat ayat al-quran yang artinya setiap kesulitan, pasti ada kemudahan.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden umur berapa baru merasakan keberhasilan menjadi seorang presiden? Bahkan dia menjadi presiden usia tertua. Semua pada akhirnya meraih keberhasilannya dengan upayanya masing-masing dan tentu juga dengan bentuan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, jangan pernah pesimis dalam hidup. Apalagi masih muda. Tidak ada orang yang sampai puncak bisa tiba langsung di puncak, sudah pasti dia berada di lereng gunung dahulu.

Penulis adalah aktivis perempuan asal Sumatera Utara

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan