SERUKADANG – Celebesta.com, Samdhana Institute melakukan kunjungan ke komunitas adat Serukadang yang merupakan bagain dari perayaan ulang Tahun ke-20 Samdhana Institute sekaligus memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) diperingati setiap tanggal 9 Agustus.
Komunitas Adat Serukadang berada di Desa New Visayas Don Carlos, Bukidnon, merupakan bagian dari Kepulauan Mindanao, Philippines. Komunitas adat ini memiliki keunikan dari tata cara sambutan, ritual pembuka hingga ritual penutup merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan.
Sebelum memasuki tempat kegiatan terlebih dahulu menyerahkan koin dengan mata uang peso pertanda Tim Samdhana Institute diterima dengan baik oleh komunitas adat Serukadang.
Boronai Ruldan Babilun, Kirin Takn perwakilan _Indigenous Political Structure_ mengatakan bahwa koin merupakan persembahan bagi komunitas adat pada leluhur dan alam semesta.
“Koin juga digunakan untuk membeli keperluan bahan ritual di komunitas adat lain,” ujar Boronai usai upacara adat, Rabu (9/8/2023).
Pada umumnya, sebelum memulai aktivitas atau diskusi terlebih dahulu melakukan ritual sebagai masyarakat adat memakai dua ekor ayam putih, arak beras yang mereka sebut “Royal” diganti dengan minuman soda karena ketersediaan yang tidak mencukupi, kemudian darah ayam dioles ke tangan sebagai tanda persadauraan dan tidak saling bermusuhan serta pernyataan menerima sebagai bagian dari komunitas adat. Daun Kilala (taba) berwarna merah melambangkan Tim Samdhana Institute diterima sebagian dari komunitas adat Serukadang.
Selanjutnya Salingbangun merupakan daun berwarna hijau melambangkan perjuangan akan mendapatkan kembali hak atas tanah adat maupun wilayah adat yang secara sepihak diklaim oleh negara. Buah Denggou melambangkan obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang ada di komunitas. Kemudian kain putih melambangkan perdamaian, toleransi dan menerima semua perbedaan, baik agama, sosial dan budaya.
“Pinang melambangkan buah yang sehat dan menjadi alat interaksi antara masyarakat adat dengan leluhur dan alam semesta yang memberikan semangat dan kekuatan,” ungkapnya.
Terakhir dengan ritual penutup yang menyediakan minuman kepada leluhur serta alam semesta bertujuan agar diberikan kekuatan alam dan leluhur diarah timur dan arah barat. Kemudian diakhiri makan bersama pertanda sebagai penangkal terjadinya insiden yang tidak diharapkan.
Kegiatan itu berlangsung di turugan atau balai pertemuan digunakan sebagai ritual adat, pertemuan yang membicarakan urusan masyarakat maupun pemerintah.
Lebih lanjut, Erwin, Deputy Direktur Samdhana Institute Operasional Phillippine mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan 20 tahun Samdhana Institute.
“Kegiatan ini merupakan perayaan ulang tahun ke-20 Samdhana Institute bersama komunitas adat Serukadang sekaligus merefleksikan kerja-kerja Samdhana di Philliphine dan Asia Tenggara,” jelas Erwin.
Sementara itu, Deputy Direktur Samdhana Institute Operasional Indonesia, Martua T. Sirait, P.hD sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini bersama komunitas adat Serukadang.
“Partisipasi anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan dan mau belajar kearifan budaya leluhur dan generasi sekarang dapat menjawab tantangan perubahan iklim dan mempertahankan pembangunan rendah karbon dari generasi ke generasi,” tutup Bang Martua sapaan akrabnya. (mk/Bariq)






Komentar