oleh

Sekjen AMAN, Pandemi Jadi Tantangan bagi Masyarakat Adat

Celebesta.com – JAKARTA, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) peringati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) setiap tanggal 9 Agustus. Dalam dua tahun terakhir, HIMAS diperingati secara virtual dikarenakan pandemi Covid-19 belum kunjung usai hingga saat ini.

Menurut Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi saat ini menjadi tantangan bagi masyarakat adat, dengan memakai baju adat lantas menandatangani pelepasan wilayah adat, menggunakan identitas adat justru jauh dari hal-hal kemuliaan. Unsur kebudayaan seperti baju, nama lahir dari sistem kekerabatan warisan leluhur.

“Satu tahun terakhir, pandemi menunjukan kita bagian dari bumi. Bagian dari alam semesta dan tidak jauh lebih berkuasa. Praktik-praktik terjadi di wilayah adat seperti di Sungai Utik menunjukan keselamatan bumi adalah salah satu syarat utama untuk keselamatan umat manusia dalam berbagai situasi,” jelas Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi dalam perayaan HIMAS berlangsung secara virtual, Senin (9/8/2021).

Sementara itu, Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud ristek mengatakan pandemi Covid-19 bermula dari kota besar, kemudian masuk ke kabupaten, kecamatan, desa dan kembali lagi ke kota besar dan seterusnya.

PPKM di beberapa tempat berhasil menekan laju Covid-19 tetapi belum tentu di tempat-tempat yang lain. Sekarang frustrasi, bukan karena alasan ekonomi, tetapi juga kesehatan mental dengan terbatasnya ruang gerak bertahun-tahun, belum diketahui kapan akan berakhir, sementara vaksinasi belum merata.

“Kebijakan baru yang belum punya Kartu Tanda Penduduk (KTP) dapat ikut vaksinasi, tetapi fakta lain lagi. Sehingga di lapangan perlu dikawal yang memang itu bisa diakses oleh semua orang,” kata Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud ristek dalam sambutan perayaan HIMAS.

Lanjutnya, khusus masyarakat adat tentu situasi sangat bervariasi, ada daerah-daerah terjaga dan terlindungi dengan baik karena kedaulatannya kuat. Sehingga masyarakatnya dapat menetapkan sejenis lockdown ditingkat lokal, aturan-aturan dipatuhi. Tetapi sebagiannya tidak mengalami kewewahan seperti itu.

Sebagian dari lahan-lahan masyarakat adat sudah bersinggungan dengan tempat-tempat modern, seperti perkebunan, pertambangan, kota dan seterusnya. Sehingga irisan ini akan membatasi kemampuan masyarakat adat untuk menerapkan mekanisme kendali yang sesungguhnya ada pada mereka secara efektif.

Daerah-daerah kedaulatannya tinggi, masyarakat memiliki mekanisme itu dan bahkan istilah untuk pandemi ini yang digunakan turun temurun seperti situasi yang kita hadapi sekarang. Lebih penting adalah adanya ikatan sosial yang kuat, adanya otoritas yang ditaati dan yang sangat mendasar pemahaman bersama yang solid.

Hal itu, kata Hilmar Farid tidak ada diperkotaan yang tercerai berai, panik, menyalahkan satu sama lain, sibuk berdebat apa yang paling baik dilakukan, karena tatanan modern sama sekali tidak disiapkan menghadapi situasi seperti (pandemi) ini.

Sementara masyarakat turun temurun, dari generasi ke generasi mewariskan pengetahuannya terus menerus dan punya mekanisme pengatahuan dan bekal untuk menghadapi semua ini disebut resiliensi atau ketahanan.

Menurut Hilmar Farid, sangat penting sekali mendokumentasikan pengetahuan dan praktik yang muncul di berbagai tempat. Mengapa itu penting? Karena solusi pandemi tidak mungkin tunggal. Tidak ada satu solusi berlaku untuk semua, konteks lokal sangatlah penting.

“Dalam satu tahun ini ada kesadaran berkembang bahwa dunia kita hidupi ini setelah pandemi tidak akan sama lagi. Pandemi ini adalah sesungguhnya cermin perilaku manusia dalam relasinya dengan alam,” ungkap Hilmar Farid. (mk/ISN)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan