oleh

Dirjen Kebudayaan, Manusia Bagian dari Bumi

Celebesta.com – JAKARTA, Untuk pertama kalinya dalam sejarah pada zaman modern bahwa satu tahun terakhir adalah sejarah iklim yang di luar batas kemampuan manusia. Hal itu, ditentukan atau sangat dipengaruhi oleh manusia.

Menurut Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud ristek, Hilmar Farid yang disebut pemanasan global, perubahan iklim dan semuanya karena perilaku manusia. Kehidupan sangat bergantung pada karbon dan seterusnya sehingga menyebabkan perubahan-perubahan di dalam lingkungan hidup sangat besar. Keanekaragaman hayati sekarang terancam dan pengaruhnya itu sangat besar sekali.

“Dengan adanya keanekaragaman hayati selama ribuan tahun adalah syarat tegaknya ekosistem. Hanya, ketika manusia melakukan intervensi secara sangat besar maka terjadi perubahan-perubahan sangat mendasar,” jelas Hilmar Farid dalam sambutan perayaan HIMAS diselenggarakan oleh AMAN via online, Senin (9/8/2021).

Lantas Hilmar Farid bertanya, apakah kita ini tidak mengerti? Kenapa kita begitu ceroboh menghabisi keanekaragaman hayati, merusak ekosistem kemudian melahirkan satu ekosisistem sangat rentan terhadap penyakit seperti sekarang ini.

Kata dia, alasannya karena kebodohan, ketidaktahuan, kesombongan karena menganggap makhluk lebih mulai daripada yang lainnya. Kemudian karena keserahakan, mengumpulkan harta di atas segalanya dan selama puluhan tahun semua sikap dan perilaku membawa kita sekarang pada situasi yang ada saat ini.

Lebih lanjut, kita sudah lama sekali bicara lingkungan, tetapi diabaikan. Sekarang saya menangkap bahwa dengan adanya pandemi akibat-akibatnya mulai kita rasakan. Sehingga akibat pandemi ini menggentarkan.

Banyak orang sekarang seperti world economic forum, pembuat kebijakan bicara perlu adanya fundamental. Sekarang mulai banyak orang bicara pentingnya lingkungan hidup. Katanya, jadi ada semacam kesadaran baru bahwa manusia adalah bagian dari bumi.

Sekarang adalah momen yang sangat tepat bagi masyarakat adat berada pada titik perjuangan sangat menentukan. Perlawanan dan perjuangan adalah dua hal terkait, perlawanan terhadap ketidakadilan diimbangi perjuangan untuk keadilan.

“Masyarakat adat terus melawan, dan tidak kalah pentingnya adalah kita hadir memberikan solusi, kita mesti menjadi bagian dari tatanan normal yang baru itu. Normal baru itu bersandar pada kearifan lokal,” jelas Dirjen Kebudayaan itu.

Normal baru hendaknya bukan satu konsep absrak yang disusun para perencanaan jauh dari kenyataan, tetapi normal baru mestinya disusun berdasarkan praktik dan pengalaman konkrit yang ada di bawah. Normal baru dengan filosofi bahwa manusia adalah bagian dari alam.

“Normal baru tidak boleh lagi tenggelam dalam kebodohan, keangguhan dan keserakahan manusia. Tidak ada tempat lebih baik mempelajari norma-norma dan nilai daripada masyarakat adat. Dari sinilah kita belajar banyak untuk memikirkan tatanan normal baru di masa mendatang,” tutupnya. (mk)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan