oleh

Pakaian Adat: Sebuah Ajang Kampanye Sekaligus Petaka

Oleh : Felix Torae Rore*

(Mahasiswa Universitas Tadulako)

POSO – Sungguh miris melihat banyak peristiwa sosial yang dialami suku-suku kecil ketika membahas mengenai perampasan hak atas tanah maupun kesejahteraan. Tapi di media, begitu bahagianya kita melihat ada artis dan pejabat negara yang selalu gonta-ganti memakai pakaian adat dari berbagai macam suku di negeri ini.

Seperti halnya Nagita Slavina istri dari Raffi Ahmad, yang memakai pakaian adat Papua guna mempromosikan Pekan Olahraga Nasional (PON XX). Untuk khalayak pecinta media sosial itu memang tidak masalah.

Tetapi, ketika kita membaca konteks lebih dalam mengenai apa yang dirasakan masyarakat Papua, saya kira raut wajah bahagia Slavina di depan kamera itu berbalik jauh dengan wajah Orang Papua yang sampai hari ini terus-menerus mengalami penindasan dari negara.

Pertama, di mana Sumber Daya Alam mereka terus dikeruk oleh negara melalui PT.Freeport yang membuat suku seperti Amungme dan Kamoro kehilangan hak atas tempat tinggal dan tidak bisa menjalankan tradisi adat mereka.

Kedua, beberapa waktu lalu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya Bakar, memakai pakaian adat Suku Dayak dalam peringatan Hari Pancasila Tahun 2021. Padahal Awal Januari 2019, menteri tersebut mencabut status kayu ulin dari jenis tumbuhan dan satwa dilindungi, agar perusahaan sawit bisa mudah mengakses izin investasi dan bebas menebang pohon. Disisi lain, kayu ulin merupakan kayu khas Kalimantan yang sering dipakai untuk membangun rumah masyarakat adat.

Sungguh sebuah ironi, ketika masyarakat Adat selalu dibangga-banggakan oleh negara di media-media online, tapi kebalikannya justru kehidupan yang miris didapatkan suku-suku tersebut. Dan prakteknya bukan saja di media.

Paling mungkin sering kita temui adalah pejabat yang sok-sok’an jadi pengurus Lembaga Adat di salah satu wilayah, jangankan bahasa, tradisi turun-temurun tidak akan mereka pahami. Karena memang tujuannya bukan soal melestarikan, tapi SDA di daerah tersebut yang jadi incaran.

Kita bisa saja sebut bahwa pebisnis SDA di negeri ini memang latar-belakang selalu suka berpakaian adat ketika ada acara-acara tertentu. Tapi ujung-ujungnya mereka juga yang menjadi pelaku perampasan tanah yang menyebabkan banyak masyarakat suku-suku kecil meninggalkan tanah sekaligus tradisi mereka.

Sekarang tradisi berpakaian adat bukan saja dipakai ketika ada acara atau ritual-ritual. Bahkan ketika musim kampanye tiba. Pasangan calon kepala daerah lebih sering memakai pakaian adat dibandingkan kepala suku.

*Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed