Celebesta.com – PALU, Hari ibu, tepat pada 22 Desember 2020. Walaupun demikian tulisan sederhana ini, tidak menjelaskan secara spesifik latar belakang sejarah ditetapkannya momentum tersebut, atau dalam istilah jurnalis penulis lebih pada sudut pandang berita (angle) yang agak sedikit berbeda tetapi sangat erat kaitannya.
Iya Tanah adalah Ibu bagi masyarakat adat, hal itu yang dibahas. Dimana korelasinya? Merujuk beberapa landasan filosofis masyarakat adat semisal “Indoku Dunia, Umaku Langi”. Jika diartikan kira-kira begini “Ibuku Dunia/bumi dan Bapakku Langit. Dengan kata lain Bumi dipahami sebagai Tanah.
Pandangan orang Unde (Topounde) di Salena dalam berladang dipercaya bahwa tanah sebagai Ibu kemudian hujan yang turun dari langit dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban Bapak kepada anaknya. Hal demikian juga menunjukkan bahwa aktivitas orang Salena tidak bisa dipisahkan dari bercocok tanam (hubungan manusia dan tanah).
Walaupun tantangan menjaga bumi terbilang mengalami kemunduran, seiring begitu pesatnya pertambangan galian C, namun hal ini juga dipahami sebagai sebuah tantangan dalam kehidupan sosial.
Selanjutnya, cerita dari orang-orang Uma (Topouma) di Pipikoro dan Kulawi Selatan menganggap Koro (sungai) adalah bagian dari hidup yang menjadi sumber penghidupan. Jika ditelisik lebih jauh bahwa proses air menjadi sungai tidak lepas dari Bumi (tanah).
Kemudian Hutan (wana) dipahami sebagai Bapak. Pendekatan ini jelas dilihat bahwa hubungan sumber daya alam erat kaitanya dengan manusia.
“Alam itu hidup dan punya nyawa, jika dirusak akan marah,” begitu kata Elsi E. Lunda.
Ia adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus petani di Dusun Wahi, Desa Pilimakujawa, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi, saat ditemui Celebesta.com beberapa waktu yang lalu.
Dalam hal adat-istiadat tentu kita patut menghargai pengetahuan-pengetahuan lokal tersebut, iya di mana bumi dipijak, disitu langit kita junjung.
Reportase: Arman Seli






Komentar