Ad Banner

Nompakoni adalah bagian dari Ritual Adat Memberi Sesaji ditempat tertentu dan itu merupakan wujud etika Lingkungan (Foto: Arman Seli).

Adat dan Etika Lingkungan

 |   |  109 Views

Oleh: Arman Seli*

PALU – Adat dalam kehidupan bermasyarakat seringkali dikaitkan dengan aktvitas sosial seperti   norma, dan tradisi yang melekat pada masyarakat atau bisa dipahami sebagai perilaku sosial  antara sesama manusia dan lingkungan bahkan Sang Pencipta.  Mengutip wikipedia bahwa  Adat juga berupa gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, kelembagaan dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu kelompok.

Apabila adat tidak dilaksanakan akan terjadi kehancuran yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang. Salah satu contoh dalam masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhurnya, katakanlah Suku Kaili bahwa seringkali melindungi pohon beringin (Nunu) karena dianggap berpenghuni. Cara melindunginya seringkali dalam hal tertentu memberi sesaji (Nompakoni), hal itu menjadi wujud konservasi.

Mengutip wikipedia, pendapat Jalaluddin Tunsam ia seorang yang berkebangsaan arab yang tinggal di Aceh dalam tulisannya pada tahun 1660, dirinya mengatakan bahwa Adat berasal dari Bahasa Arab (Adah) yang berarti “cara” dan “kebiasaan”. Sementara itu menurut Koencaraningrat bahwa Adat adalah  suatu bentuk perwujudan dari kebudayaan, kemudian adat digambarkan sebagai tata kelakuan.

Adat merupakan sebuah norma atau aturan yang tidak tertulis akan tetapi keberadaannya sangat kuat dan mengikat sehingga siapa saja yang melanggarnya akan dikenakan sanksi yang cukup keras (gurupendidikan.com). Berdasarkan penjelasan diatas maka kita bisa memahami bahwa adat adalah kebiasaan atau norma yang  menjadi konsensus dan dijalankan oleh kelompok masyarakat tertentu.

Selanjutnya kita melihat korelasi adat dan etika lingkungan, penulis berpandangan bahwa  erat kaitan antara dua hal tersebut. Kembali merujuk adat sebagai sebuah kebiasaan, maka menjaga dan melestarikan (konservasi) adalah bagian penting yang  secara turun-temurun dilakukan.

Menurut Elsi E. Lunda, ia adalah Ketua Serikat Tani Tuwo (STT)  bahwa orang Uma (Topouma) di Kulawi Selatan dan Pipikoro  secara filosofis  percaya bahwa sungai (Koro) adalah Ibu dan Hutan (Wana) adalah Bapak. Maka nilai yang sudah terbangun sejak lama menjadi landasan berpikir dan bertindak melalui pengetetahuan lokal itu pula Topouma menjaga dan terus melindungi sumber daya alamnya (Celebesta.com).

Adapula pandangan Orang Kamalisi seperti Orang Unde (Topounde) di Salena dalam bahasa setempat disebut Indoku Dunia, Umaku Langi yang berarti Bumi adalah Ibu adalah Bumi dan Langit adalah Bapak. Sehingga dalam berladang dipercaya bahwa tanah sebagai Ibu kemudian hujan yang turun dari Langit dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban Bapak kepada anaknya. Hal demikian juga menunjukkan bahwa aktivitas orang Salena tidak bisa dipisahkan dari bercocok tanam (aman.or.id).

Kemudian Orang Moma (Topomoma) di Kulawi tepatnya di Ngata Toro memiliki landasan filosofis yang disebut Taluhi Katuvua  berarti Tungku Kehidupan. Makna dari pandangan tersebut adalah menjaga hubungan antara Sang Pencipta (Topehoi), Alam Semesta atau Lingkungan dan Sesama Manusia. Topehoi yang memberikan Kehidupan (Katuvua) berupa sumber daya alam (SDA) sehingga tanggungjawab manusia menjaganya. Dalam satu kesempatan Tina Ngata, Rukmini Paata Toheke seorang perempuan adat dari Ngata Toro pernah mengatakan “merusak lingkungan sama dengan merusak generasi” (Celebesta.com).  

Hal itu menunjukkan betapa besar penghormatan terhadap lingkungan dengan narasi-narasi lokal yang sudah turun-temurun ada di masyarakat adat. Etika dapat dipandang sebagai kebiasaan hidup yang baik diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya, sebagaimana kita harus menjaga Lingkungan untuk  generasi selanjutnya.  Etika Lingkungan menekankan segi estetika alam atau etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus (Blogs.itb.ac.id).

Etika Lingkungan sejalan dengan pandangan filosofis Orang Uma di Kulawi Selatan yang menganggap Koro dan Wana adalah bagian dari hidup yang menjadi sumber penghidupan. Begitupun orang Salena yang tidak bisa dipisahkan dari proses berladang yang dilandasi oleh Kalimat “Indoku Dunia Umaku Langi dan Taluhi Katuvua di Ngata Toro.

Sangat relevan jika Adat dikaitkan dengan Etika Lingkungan karena kebiasaan menjaga dan melestarikan sumber daya alam sudah terbangun dalam pengetahuan lokal. Kemudian Adat juga bisa  menjadi bagian dari gerakan konservasi.

*Penulis adalah Jurnalis Celebesta.com/Pegiat Masyarakat Adat.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *