Ad Banner

Citra Racindy, Ketua KOHATI Cabang Perisiapan Deli Serdang (Foto: Koleksi Pribadi).

Sisi ‘Baper’ Seorang Sarjana

 |   |  91 Views

 

Oleh : Citra Racindy*

Percuma sarjana, tapi tingkahmu seperti anak kelas  5 SD. Itu yang namanya berpendidikan?”

DELI SERDANG – Manusia adalah tempatnya salah, pernyataan di atas, sering sekali kita dengar. Baik di lingkungan internal maupun eksternal. Pada saat seorang sarjana/berpendidikan tinggi melakukan kesalahan. Karena pada dasarnya, seseorang ketika selesai meraih gelar sarjana pasti di sanjung-sanjung, di timang-timang bak dewa yang selalu membawa kebenaran. Apalagi jika para sarjana berasal dari kampung. Setelah pulang ke kampung halaman, orang-orang di sekeliling menganggap bahwa dia adalah kebenaran dan kebaikan yang dihadirkan untuk peradaban kampung.

Menjadi sarjana, beban akan semakin bertambah. Salah satunya adalah beban moral. Seorang sarjana yang berada di sebuah perkampungan akan selalu menjadi panutan dan sorotan. Sehingga harus berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Jika tidak, maka kalimat bergaris miring di atas akan terlontarkan kearahnya. Namun sebenarnya, mereka tidak salah dengan melontarkan kata-kata itu. Karena harapan mereka itu terhadap orang yang berpendidikan adalah tingkah lakunya baik.

Padahal ketika berhasil menjadi seorang sarjana, magister dan seterusnya yang mereka peroleh itu adalah ilmu-ilmu yang sifatnya adalah peningkatan pengetahuan saja. Bukan ilmu sopan dan santun atau pun adab. Tapi seiring berjalannya waktu dan tuntutan mereka dihadapkan dengan bersikap dengan sopan dan santun. Seperti pada saat menghubungi dosen pembimbing skripsi dan lain-lain. Maka dalam hal ini, ia di tuntut untuk mampu beradaptasi. Tetapi tidak semuanya mampu menerapkan, mungkin karena sudah terbiasa dengan sikap dan adab yang dibawa dari lingkungan yang lain.

Pendidikan tinggi tidak menjamin adab seseorang. Karena adab diperoleh di perguruan tinggu itu bukan ada pelajaran khususnya. Melainkan ilmu selingan yang bisa dipahami beberapa mahasiswa-mahasiswi di dunia pendidikan. Karena kata selingan, sebagian mahasiwa-mahasiswi pun pada akhirnya sebagian menganggap bahwa itu adalah tuntutan sementara waktu, selama masih berhubungan dengan dosen tersebut.

Stigma masyarakat awam terhadap para sarjana adalah dewa yang harus benar dan baik. Jadi, ketika seorang sarjana melakukan kesalahan dalam bersikap dan bertindak, maka yang dilontarkan adalah kata “percuma sarjana”.

Dalam tulisan inilah mengingatkan bahwa, seorang sarjana itu bukanlah dewa yang harus tidak boleh melakukan suatu kesalahan, kekeliriuan dalam bersikap dan bertindak. Mohon, ketika seorang sarajana atau seorang berpendidikan tinggi dalam melakukan kesalahan jangan bawa-bawa sarjananya atau pendidikannya. Karena itu mampu membuat seseorang merasa down dan jengkel. Dan dampaknya kepada anak-anak yang mendengarkannya jadi merasakan dan mengucapkan “iya juga ya”.

Tidak menutup kemungkinan hal ini akan membuat anak-anak tersebut untuk berhenti melanjutkan mimpinya ke dunia perkuliahan. Karena anak tadi berpikir ternyata sama saja. Tidak ada bedanya.

Beban mereka sudah terlalu berat, mulai dari menopang ilmu yang harus diaplikasikan, mencari pekerjaan dan lain-lain. Jangan ditambahkan dengan beban moral yang terus menghantuinya. Karena selama kita masih menjadi manusia kita akan berhadapan dengan kesalahan-kesalahan baik secara sikap atau pun tindakan.

Mulailah merubah kata-kata yang sifatnya menjatuhkan dengan sebuah kata-kata yang membangun. Boleh kita mengkritik dan menegur seseorang ketika salah, tapi kita harus berpikir dulu sebelum bertindak agar yang kita ucapkan tidak berpengaruh buruk terhadap orang yang kita kritisi.

Percuma itu dalam KBBI artinya adalah tidak ada gunanya. Empat tahun para sarjana menempuh pendidikan, bergelut dengan buku, teman, para dosen hebat dan lainnya. Jangan hanya karena melakukan hal kecil yang kurang beradab proses empat tahunnya langsung di justifikasi tidak ada gunanya.

Tidak ada kata percuma, semua bermanfaat dan memberi kebaikan, namun mungkin tidak setiap saat karena mereka bukan Tuhan yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hargailah proses mereka yang berpahit-pahit dalam upaya penyelesaian pendidikannya. Makan terlambat, tidur tidak nyenyak demi capaiannya. Mulai detik ini kita mulai merubah kebiasaan baru untuk mengkritisi tanpa menjatuhkan.

*Penulis Adalah Ketua KOHATI Cabang Perisiapan Deli Serdang.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *