oleh

Sepucuk Surat Menolak PLTA Salo Pebatua

SIGI – Celebesta.com, Kampung diselimuti kabut kadang cuaca juga cepat berubah sesekali terik matahari memancar di waktu sore. Orang-orang di Dusun Wahi yang penuh ramah. Redaksi Celebesta.com dan beberapa orang kawan mendatangi rumah ibu Elsi E. Lunda dengan tujuan untuk mewawancara dirinya terkait penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Salu Pebatua.

Elsi merupakan Ketua Serikat Petani Wahi (SPW) saat ditemui di Desa Pilimakujawa, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi belum lama ini dirinya menyambut redaksi Celebesta.com dengan baik dan ia pun terbuka menyampaikan informasi.

Menatap keatas sambil mengisap rokok yang ia selip di tangan kanannya, Elsi seperti sembunyi dari tangisnya. Indera penglihatnya berkaca seperti menyimpan air, sedikit lagi cairan itu akan menetes jika ia tak mampu membendungnya.

Pelan-pelan ia mulai bercerita, dirinya tidak tega jika dikemudian hari orang-orang kampung menderita karena Pembangunan PLTA Salu Pebatua. Di satu waktu ia menulis sepucuk surat di seperdua malam, Elsi gelisah dan matanya tak juga merasa kantuk.

Mula-mula ia terbangun dan mencari selembar kertas dan alat tulis. Selanjutnya ia menuliskan kalimat-kaliamat penolakan di kertas yang ia pegang tersebut.

Melalui sepucuk surat penolakan PLTA Salu Pebatua di Desa Pilimakujawa, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi (Foto: Arman Seli).

“Tengah malam saya tidak ta tidur, akhirnya saya cari kertas dengan polpen. Baru saya tulis penolakan saya terhadap PLTA Salu Pebatua”, cerita Elsa.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana dan mengalir layaknya berdiskusi saya sampaikan, kadang saya harus meminta dirinya untuk mengulangi jawabannya karena bising motor lewat membuat pendengaran saya tidak begitu jelas.

Beberapa point-point penting yang ia tulis dalam suratnya. Semisal pertama, kami hanya orang miskin yang butuh dikasihi pemerintah, kami butuh pertolongan. Kedua, kami ingin tetap tinggal di dusun kami. Ketiga, tolong perusahaan cari tempat yang lain jangan di dusun kami. Keempat, tanah kami, sungai kami, jangan ambil hutan kami, kasihi kami.

Surat ini, tidak ia tulis sebagaimana surat resmi yang dipahami orang-orang berpendidikan tinggi. Tetapi rangkaian huruf, kemudian menjadi kata dan kalimat yang mudah dipahami tentu membuat pembaca merasa sedih.

Reporter: Arman Seli

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan