PALU – Celebesta.com, Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional, seorang Akademisi FKIP Universitas Tadulako sekaligus praktisi Surahman, S. Pd., M. Pd memandang bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah fondasi untuk membangun jati diri bangsa. Salah satunya, dengan memajukan paradigma pendidikan dan bahasa daerah.
Menurutnya, selama ini kurikulum kita sudah bagus, hanya saja prakteknya yang masih berparadigma behavior. Yaitu, praktek belajar yang hanya berlandaskan pada kepuasan hasil mengajar dan belajar. Tanpa, ada evaluasi dari proses belajar mengajar itu. Dan, kurangnya partisipasi siswa. Akbatnya, dengan paradigma seperti itu, sekolah menjadi terasa bosan bagi siswa. Sebab, naluri siswa untuk mencari tahu pelajaran yang dipelajari, kurang terpancing niatnya.
Bagi Surahman, perlu ada metode terbarukan dalam memajukan cara mendidik dengan mengedepankan kreatifitas siswa dan partisipasi siswa.
“Orientasi kurikulum sudah mengarah pada pembelajaran konstruktivis, namun sebagian guru sebagai pelaksana pembelajaran yang masih menganut prinsip behavior. Sehingga kita mendapati bentuk pembelajaran yang cenderung monoton, jadi jangan heran jika saat ini anak-anak seperti senang jika tidak sekolah”, kata Surahman melalui Siaran Pers, Sabtu (2/5/2020).
“Oleh karena itu, perlu ada terobosan pada metode belajar mengajar yang sesuai dengan keadaan dan keinginan siswa”, lanjut Surahman.
Selain itu, kunci membangun karakter bangsa yang berkepribadian. Surahman menekankan, pentingnya penanaman kebudayaan daerah di setiap mata pelajaran sekolah. Seperti bahasa daerah. Terlebih khusus, ia menyoroti hal tersebut di daerah asalanya Kabupaten Morowali Utara.
Bagi dia, agar anak muda zaman sekarang ini mau menghargai kebudayaan daerahnya adalah dengan mempelajari bahasa daerahnya sendiri. Tidak cukup hanya dengan menyuruh siswa menggunakan atribut kebudayaan setiap hari senin. Karena menurut dia kebudayaan dan bahasa daerah jauh lebih penting dipahami.
“Saat ini, untuk tidak kehilangan jati diri. kita perlu mempelajari bahasa daerah. Khususnya dari Morowali Utara. Disana, ada bahasa asli Mori dan Wana. Bahasa ini, perlu ditanamkan di Kurikulum dan mata pelajaran di sekolah-sekolah”, ujar Surahman.
Ketika ditanya wartawan, mengapa hal itu penting. Surahman menjawab demikian.
“Pendidikan berkaitan erat dengan bahasa. Bagaimana kita mau melaksanakan pendidikan yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Morowali Utara yang membentuk karakter, jika bahasa daerahnya saja kurang diketahui”, jawab Surahman.
“Mulai sekarang coba gerakkan kembali penggunaan bahasa Mori di sekolah-sekolah dari SD hingga SMA”, tambahnya.
Surahman berharap, untuk kemajuan pendidikan di Hardiknas khususnya di Morut, kita sebagai pendidik maupun seluruh elemen yang berkaitan dengan pendidikan agar kembali sadar bahwa penentu keberhasilan, kemajuan dan pembangunan suatu daerah maupun suatu bangsa ditentukan oleh sumber daya manusianya, maka pendidikan merupakan jantung dari peningkatan sumber daya manusia tersebut.
Maka perlu kita mengupayakan agar setiap hal yang dilakukan untuk mendidik generasi kita agar berorientasi pada kecintaan kepada daerah, adat istiadat dan bangsa. Sehingga ketika mereka selesai menempuh pendidikan, mereka akan membangun daerah dengan penuh rasa tanggung jawab. (AS)






Komentar