oleh

Warga Menolak “Logam Tanah Jarang”

Cerita dari Botteng dan Takandeang – Mamuju, Sulawesi Barat

Di mulai dengan aroma cengkeh, kakao dan durian yang menggelantung di pekarangan, juga warga yang berjalan ke kebun di perbukitan sambil menenteng parang dan harapan. Di sana, air mengalir yang tidak pernah mereka hitung dengan angka, karena ia sudah menjadi bagian dari hidup sejak nenek moyang. Mereka tidak kaya, tetapi mereka merasa cukup. Mereka tidak berkuasa, tetapi mereka merasa aman.

Lalu datanglah kabar itu dari tulisan dan video diberbagai media. Tentang logam tanah jarang. Tentang “emas baru” yang katanya akan membawa Indonesia melompat ke masa depan. Tentang neodimium, magnet permanen, mobil listrik, turbin angin, dan kedaulatan industri. Tentang Mamuju yang disebut-sebut menyimpan harta senilai ribuan miliar. Tentang kadar 4.571 ppm yang membuat para ahli terbelalak. Tentang deposit ion adsorption clay yang konon lebih mudah diekstraksi. Tentang PT Perminas, perusahaan negara yang dibentuk untuk mempercepat semuanya. Tentang target sembilan bulan yang terdengar seperti alarm, bukan rencana.

Semua terdengar megah. Semua terdengar seperti kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Tetapi di Botteng dan Takandeang, yang terdengar justru lain: suara tanah yang akan dibuka, hutan yang akan ditebang, dan air yang mungkin tidak lagi mengalir ke sawah, ke sumur, ke dapur, ke mulut anak-anak.

Warga menolak karena mereka tahu. Mereka sudah melihat bagaimana tambang lain datang ke Sulawesi, membawa janji, lalu pergi membawa keuntungan, meninggalkan lubang, konflik, dan air yang keruh. Inilah alasan mengapa kata “tambang” tidak lagi terdengar netral di telinga mereka. Olehnya butuh kejujuran. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar lahan, tetapi cara hidup. Bukan hanya pohon, tetapi ingatan. Bukan hanya air, tetapi masa depan.

Kita sering mendengar narasi bahwa transisi energi adalah keharusan. Bahwa dunia membutuhkan LTJ untuk meninggalkan fosil. Bahwa Indonesia harus mengambil peran. Semua itu benar. Tetapi transisi energi tidak boleh dibangun di atas pengorbanan mereka yang paling lemah. Kita tidak bisa menyelamatkan bumi dengan menghancurkan rumah orang lain. Kita tidak bisa menyebutnya “hijau” jika airnya beracun, jika tanahnya longsor, jika perempuan kehilangan kebunnya, jika anak-anak kehilangan masa depannya.

Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah Indonesia harus menambang LTJ?” Pertanyaan itu sudah usang. Pertanyaannya adalah: dengan cara apa, untuk siapa, dan dengan jaminan apa?

Jika Mamuju memang akan menjadi pusat LTJ nasional, maka amdalnya harus transparan, partisipatif, dan dilakukan sebelum eksplorasi, bukan sesudah. Hasilnya harus bisa diakses siapa saja. Hak masyarakat adat harus diakui, bukan dilangkahi. Pemerintah daerah harus duduk setara di meja keputusan, bukan menerima perintah dari pusat. Dan jaminan reklamasi harus nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. Karena sampai hari ini, belum ada bukti bahwa bekas tambang LTJ bisa pulih sempurna. Belum ada jaminan bahwa air akan kembali jernih. Belum ada kepastian bahwa perempuan bisa kembali ke kebun dengan tenang.

Botteng dan Takandeang bukan laboratorium, Ia adalah rumah. Ia bukan peta di atas meja rapat. Ia adalah tempat di mana orang menanam, memanen, berdoa, dan menitipkan masa depan anak-anak mereka. Jika negara ingin mengambil sesuatu dari sana, negara harus datang dengan hormat, bukan dengan paksaan. Negara harus datang dengan bukti, bukan dengan janji. Negara harus datang sebagai pelindung, bukan sebagai tamu yang mengubah segalanya lalu pergi.

Kita semua akan menua. Kita semua akan mewariskan sesuatu. Apakah kita ingin mewariskan magnet, mobil listrik, dan turbin angin—tetapi dengan air yang tercemar dan desa yang hancur? Atau kita ingin mewariskan Indonesia yang berdaulat, tetapi juga adil? Indonesia yang maju, tetapi tidak mengorbankan yang lemah?

Sekarang, air masih mengalir. Cengkeh, kakao dan durian masih berbau harum. Warga masih bisa makan dan tidur tenang. Tetapi semuanya bisa berubah jika kita salah memilih. Jangan biarkan “emas baru” merampas air dan doa. Jangan biarkan Mamuju menjadi nama yang kita sebut dengan penyesalan. Dengarkan mereka sebelum terlambat. Karena ketika tambang sudah masuk, tidak ada lagi kata “seharusnya”. Yang tersisa hanya lubang, luka, dan sunyi.

(Syahrun Latjupa)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan