Celebesta.com – Donggala, Pengurus Kampung Barisan Pemuda Adat Nusantara (PKam BPAN) Nggolo bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kamalisi mendampingi Mahasiswa Universitas Indonesia yang melakukan riset Bio-cultural di Komunitas Adat Nggolo.
Komunitas Adat Nggolo meliputi, Lingkungan Salena, Kelurahan Buluri, Kota Palu kemudian Dusun Sintulu, Desa Lumbumamara, Pemukiman Pu’u Ntana, Desa Powelua dan Dusun Doriamporanggu, Desa Salungkaenu, Kecamatan Banawa Selatan.
Riset ini dimulai 11 April hingga 05 Juni 2025 terlaksana atas kerjasama Badan Registrasi Wilayah adat (BRWA) Nasional dengan Universitas Indonesia melalui program Magang, Merdeka Belajar, Belajar Merdeka. Kemudian dalam kerja-kerja di lapangan melibatkan BRWA Sulteng, AMAN Kamalisi dan PKam BPAN Nggolo.
Program ini diikuti oleh Debora Ivanna Marcelina, Muhammad Izzuddin, Jurusan Antropologi dan Nisrina Nur Azizah dari Jurusan Biologi, Universitas Indonesia.
Menurut mahasiswa yang melakukan penelitian banyak hal menarik dari komunitas adat Nggolo termasuk bagaimana masyarakat adat Nggolo memahami ruang hidup, hak atas tanah dan menjaga tradisi. Mahasiswa mendapatkan pengalaman baru selama berada di komunitas adat ini.
Debora, salah satu periset mengatakan
cerita yang menarik selama melakukan riset di wilayah adat Nggolo adalah pengalaman pergi serta tinggal di kampung yang berbeda-beda.
Meskipun mendatangi wilayah dengan identitas yang sama setiap kampung memberikan pengalaman yang berbeda bagi dia dan teman-temannya.
“Hal ini juga berpengaruh terhadap medan yang kami tempuh, ada kampung yang bisa dengan nyaman kami datangi menggunakan mobil seperti Salena dan Sintulu. Disisi lain, kami harus menempuh perjalanan 7,5 jam dengan berjalan kaki untuk mencapai Pu’u Ntana,” ungkap Debora.
Menurut dia, setiap kampung memiliki dinamika yang sangat beragam, Salena memberikan pengalaman pertama untuk mengunjungi tempat wisata paralayang.
Wisata Paralayang ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi setiap masyarakat di sana sehingga terjadi keberagaman perspektif.
Sebagai mahasiswa Antropologi, Debora banyak mengamati fenomena yang terjadi di komunitas adat. Misalnya di Sintulu, dirinya melihat bahwa sungai yang dekat dengan pemukiman bisa menjadi peluang dalam mencari rezeki.
Sementara itu, di Pu’u Ntana atau Puntana memiliki sistem kepemilikan komunal yang sangat kental. Masyarakat di sana menganggap segala sesuatu adalah milik bersama mulai dari hal-hal kecil seperti makanan ringan hingga tanah yang mereka tempati.
Sebagai mahasiswa antropologi, Debora melihat begitu banyak tantangan yang dihadapi masyarakat dimasa yang datang.
Masyarakat harus terus mengenal baik komunitas dan wilayah yang mereka miliki.
“Seperti pepatah “tak kenal maka tak sayang” hal itu juga yang mungkin terjadi apabila masyarakat tidak mengenal identitas mereka sebagai masyarakat adat Nggolo. Jika masyarakat mengenal dan memahami komunitasnya maka akan mudah juga mengidentifikasi ancaman baik dari dalam maupun luar terlebih dengan status wilayah yang masih termasuk dalam kawasan hutan lindung” ungkap Debora.
Sementara itu, Afid, Pengurus Kampung, Barisan Pemuda Adat Nusantara (PKam BPAN) Nggolo bersyukur atas riset yang dilakukan oleh Mahasiswa Universitas Indonesia.
Karena kegiatan ini membantu memperkuat proses mendorong pengakuan dan perlindungan masyarakat adat Nggolo di pemerintahan.
“Saya sebagai anggota mengapresiasi semangat kawan-kawan mahasiswa dan kami merasa terbantu dengan program magang ini,” kata Afid.
Menurut Afid, kemampuan mahasiswa beradaptasi ditengah masyarakat membuat penelitian ini berjalan dengan baik.
“Mahasiswa cepat menyesuaikan dengan warga hal itu mempermudah komunikasi mereka,” ungkap Afid.
Dirinya juga mengucapkan terimakasih kepada masyarakat dan Pemerintah Desa Lumbumamara, Salungkaenu dan Powelua serta Buluri karena menerima mahasiswa magang riset biokultural dengan baik. (AS)






Komentar