PASANGKAYU – Celebesta.com, Sejumlah Komunitas Pemuda se-Kecamatan Bambalamotu bersama Mahasiswa KKN Reguler Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan kolaborasi penanaman Mangrove yang bertempat di Pantai Baliri, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Sabtu (28/10/2023).
Aksi yang dilakukan sejak Pukul 08.00 WITA itu, dimeriahkan oleh para siswa SMA Negeri 1 Bambalomutu. Penanaman mangrove dilakukan untuk mengantisipasi laju abrasi pantai akibat perubahan iklim yang tak menentu sehingga mendorong peningkatan permukan air laut.
Saipul, Peserta penanaman mangrove dalam keterangan tertulisnya mengatakan bahwa hal itu dilakukan agar mangrove juga bisa mumunculkan nila ekonomis bagi masyarakat, khususnya nelayan tradisional.
“Laut merupakan ruang bagi beragam mahkluk hidup termasuk manusia. Kebutuhan konsumsi hasil laut seperti ikan yang juga menjadi sumber protein bagi yang mengonsumsinya,” kata Ipul sapaan akrabnya.
Walaupun demikian, kata Ipul, ekspektasi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, terjadi kenaikan angka Stunting di Sulawesi Barat dari 33,8% pada tahun sebelumnya, menjadi 35.0%.
“Tentu hal demikian terjadi akibat kesenjangan ekonomi serta masifnya perampasan ruang hidup yang dilakukan oleh Negara untuk mempercepat hilirisasi modal berdampak buruk terhadap rakyat dan ekologis,” sambung Ipul.
Ipul kemudian memberikan satu contoh kriminalisasi masayarakat Rempang yang mempertahankan tanah adatnya, demi memuluskan industri.
“Kepentingan industrialisasi seringkali datang dengan promosi membangkitkan perekonomian rakyat. Namun timpang dengan semua itu, alih-alih membawa keuntungan, justru petaka yang dimunculkan. Ekosploitasi secara masif dan tidak terukur, berdampak pada kerusakan lingkungan.
Menurut Ipul, hadirnya beberapa indsutri di Kecamatan Bambalamotu, menjadi polemik dalam aspek lingkungan, pencemaran air sungai hingga laut tak terhindarkan.
“Itu juga memberi pengeruh terhadap produktivitas tangkapan nelayan. Melalui kolaborasi ini, kita selaku pemuda mari tunjukkan persepsi lain dari gerakan politik anak muda, bahwa kepemimpinan untuk perubahan tidak semestinya berada dalam struktural,” ungkap Ipul.
“Belajar dari beberapa tokoh dunia seperti Che Guevara dan tokoh nasional seperti Tan Malaka yang menekankan perubahan berangkat dari gerakan akar rumput,” tutup Dia. (*/AS)






Komentar