oleh

Asa Pendidikan di Tengah Covid-19

Celebesta.com – SIGI, Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanah Pembukaan UUD 1945. Walaupun demikian kendala kerapkali hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebut saja di Desa Balumpeva, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Sekolah Dasar (SD) yang berada di tempat itu sudah tutup beberapa tahun terakhir. Sebab, tidak ada Guru yang mengajar, ditambah lagi situasi pandemi Covid-19, justru menyuburkan persoalan pendidikan di desa tersebut.

Itulah kenyataannya. Menurut Edi, Sekretaris Desa Balumpeva, ketika berada di Vilao jarak sekolah yang aktif kurang lebih 5 kilometer, untuk ukuran anak-anak usia SD sangat memberatkan. Sehingga alternatifnya adalah anak-anak harus tinggal dengan keluarga di sekitar sekolah dan jauh dari kedua orang tuanya.

Sangat disayangkan bangunan semi permanen itu, tak ada pembelajaran. Kita semua tentunya berharap sekolah di pemukiman kecil itu menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Sigi.

Sementara itu, ada potret pendidikan di Kabetan, sebuah pulau terluar yang berada di Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah yang dihuni sekitar 100 Kepala Keluarga (KK). Akses menuju pulau terluar itu menggunakan transportasi laut, seperti speed boat yang menghabiskan waktu tidak kurang dari satu jam.

Menurut Nisma Tamala (59) sudah 17 tahun mengajar di SD Kabetan, Kecamatan Ogodeide saat ditemui beberapa waktu yang lalu, perempuan paruh baya itu menuturkan berbagai suka duka mengajar di tempat itu.di tengah Pandemi, pembelajaran dilakukan secara Luar Jaringan (Luring).

Selain ia menetap di tempat itu, yang menjadi alasan Luring adalah tidak adanya sinyal di pulau tersebut. Dalam proses belajar mengajar juga terlihat siswa tidak mengenakan seragam sekolah seperti pada umumnya. Alumni Sekolah Pendidikan Guru di Kabupaten Buol itu juga menuturkan bahwa para siswa saat mengikuti pembelajaran tidak mengenakan seragam sekolah.

Kemudian ada juga anak-anak di Desa Tuva yang kini bermukim di Pegunungan Kondo, Kabupaten Sigi. Pasca bencana alam 2018 silam, sejumlah anak mengkuti pendidikan alternatif (Sekolah Adat) kemudian di tahun 2020 mereka dimasukkan di SD Omu, tetapi tidak lanjut.

Awalnya karena Covid-19, kemudian lama kelamaan alasan lain muncul yakni mengikuti orang tua berladang dan sebagainya. Anak-anak itu lahir dari keluarga peladang tradisional dengan sistem gilir balik sehingga tidak ada pilihan lain yaitu mengikut orang tua bercocok tanam.

Harusnya kondisi ini juga menjadi bagian dari Skema Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim. Tetapi itulah jika kita melihat pemerataan pendidikan berpatron dengan Jakarta maka kondisi di daerah lain akan berbeda.

Selain potret pendidikan tersebut di atas, adapula di Dusun Puntana, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Sekitar 16 orang anak-anak yang tidak mengikuti pendidikan formal jenjang SD karena jarak ke sekolah cukup jauh dengan akses jalan yang terjal. Artinya hal semacam ini tentu didorong untuk merdeka belajar. (AS)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan