oleh

Warga Huntap Duyu Keluhkan Pembagian Air Bersih Tidak Merata

Celebesta.com – PALU, Warga penyintas bencana yang tinggal di Hunian Tetap (Huntap) Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu mengeluhkan minimnya air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus (MCK).

Hal tersebut disampaikan penyintas kepada sejumlah wartawan saat berkunjung ke Huntap Duyu belum lama ini. Berdasarkan pantauan Celebesta.com di lapangan, nampak baru sekitar 30 persen rumah bantuan pemerintah tersebut ditinggali warga.

Tidak terpenuhinya kebutuhan air bersih menjadi alasan paling mendasar penyintas untuk tidak menetap di Huntap. Padahal, sejak awal bencana terjadi, pemerintah pusat telah menjadikan penyediaan air bersih bagi penyintas sebagai program skala prioritas.

Salah seorang warga Huntap Duyu yang tidak menyebutkan namanya, mengaku sangat prihatin dengan keterbatasan air bersih di Huntap yang dihuninya.

“Air bersih di sini mengalirnya dalam seminggu biasanya hanya sekali mengalir. Itu pun kadang tengah malam dan sudah dua bulan ini tidak ada mengalir lagi,” keluhnya, Sabtu (31/07/2021).

Menurutnya, warga lain di Huntap Duyu terpaksa membeli air bersih untuk menyiasati kelangkaan air di Huntap bantuan pemerintah tersebut.

“Kami terpaksa harus menyiasati dengan membeli air dan isi di tandon yang kami beli sendiri. Mau bagaimana lagi?,” tanya dia.

Lanjutnya, pembagian air bersih di Huntap Duyu juga tidak merata, karena ada beberapa rumah yang airnya lancar, sedangkan warga lain kekurangan. Hal ini, diakuinya membuat warga Huntap Duyu lainnya merasa heran.

“Itu yang jadi permasalahanya, kok yang airnya lancar macam kaya diatur hanya orang tertentu mendapatkannya,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya.

Padahal katanya, pada saat sosialisasi dahulu sebelum menempati Huntap, pemerintah melalui Kementrian PUPR telah melakukan sosialisasi, yakni salah satu item penting yang disampaikan ke penyintas adalah ketersediaan air bersih di setiap rumahnya.

“Saya merasa hanya di-PHP Pemerintah, tapi beginilah nasib kami masyarakat, diberi rumah saja kami sudah bersyukur,” ungkapnya pasrah.

Hal yang sama diungkapkan warga Huntap Duyu lainnya, Fitri (26) sebagai ibu rumah tangga, dirinya merasa kebutuhan air bersih sangat penting untuk memulai kehidupan baru pasca bencana tsunami yang meluluh lantakkan rumahnya di kawasan pesisir pantai Kampung Lere.

“Mau memasak dan mencuci di sini air susah. Saya berharap pemerintah sudi melihat kondisi air bersih disini,” ungkap Fitri.

Di Huntap Duyu sendiri, pemerintah pusat telah membangun 220 unit Huntap satelit, lengkap dengan sarana dan prasarana pemukiman termasuk ruang terbuka hijau (RTK), jalan lingkungan, drainase serta lampu jalan.

Saat ini, ada sekitar 70 Kepala Keluarga (KK) yang telah menghuni Huntap Duyu dari 230 unit yang telah selesai di bangun dan siap untuk ditempati.

Untuk menjamin ketersediaan air bersih, pemerintah melalui Balai Perumahan dan Pemukiman Wilayah (BPPW) Sulteng telah membangun SPAM Duyu tahun 2019. Namun disayangkan, hingga pertengahan tahun 2021, bak Reservoir SPAM Duyu belum berfungsi maksimal. Volume debit air yang masuk ke dalam bak penampungan sangat kecil dan kerap macet.

Sementara itu, saat redaksi Celebesta.com mencoba mengulik informasi mengenai bak Reservoir SPAM Duyu kepada Helmi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BPPW Sulteng, yang bersangkutan ternyata belum dapat memberikan konfirmasi, karena dalam tahapan isolasi mandiri terpapar Covid-19.

“Saya lagi istirahat pak, lagi terpapar Covid,” tulis Helmi saat dikonfirmasi via WhastApp, Rabu (4/8/2021). (Jum/AS)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan