Celebesta.com – PALU, Kisah Hamsah (57) sudah 19 tahun menjadi pemulung, belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Hamsah, tinggal di jalan S. Parman, saat ditemui Celebesta.com di Jalan Nokilalaki, dirinya mengaku sejak tahun 2002 ia sudah menjadi pemulung di Kota Palu.
“Sudah 19 tahun saya jadi pemulung di Kota Palu tapi sampai saat ini saya belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah,” ungkap Hamsah, Jumat (9/7/2021).
Bahkan bantuan Covid-19 pun tidak dapat, menurutnya padahal ia sangat layak mendapatkan bantuan itu karena ia membiayai 3 orang anak tanpa istri.
“Walaupun saya tidak dapat bantuan, saya hanya bisa sabar dan semangat kerja untuk anak-anak saya yang membutuhkan biaya untuk sekolahnya,” jelasnya.
Kata Hamsah, dirinya tidak hanya memulung tetapi ia juga menjual tisu untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membayar sewa kos.
“Saya juga menjual tisu, tapi kalau tidak ada yang beli tisu saya masih bisa mencari plastik bekas untuk dijual dan hasilnya itu saya pakai untuk bayar uang sewa kos yang perbulanya itu 500 ribu,” katanya.
Ia juga mengatakan dalam sehari pendapatanya tidak menentu, menurutnya kadang tisu yang ia jual tidak laku sama sekali, dan sampah plastik pun kadang hanya sedikit yang ia dapatkan.
“Kalau memang mujur biasanya lakunya sampai 2 karton atau satu karton, untungnya disitu dalam satu karton 60 ribu, dan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi kalau tidak laku yah sabar saja,” ucap Hamsah.
Menurut Hamsah, tidak hanya memungut bekas sampah minuman, jergen bekas minyak goreng yang sudah tidak terpakai kadang ia minta dari rumah-rumah makan untuk dijual kembali.
“Harga jergen satu buah itu Rp.2.000, kalau gelas gelas warna Rp.15.000 satu kilo, karena itu untuk nilam, kalau botol aqua Rp.200 satu buah,” jelas Hamsah.
Ia hanya berharap agar Pemerintah lebih memperhatikan masyarakat miskin yang betul-betul layak menerima bantuan.
“Semoga bantuan dari pemerintah, bisa sampai ke orang yang betul-betul lebih membutuhkan,” harapnya.
Reporter: Jumriani






Komentar