Oleh : Siti Jilan Shaffiyah*
(Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang)
Langit di ufuk barat Kota Palu tampak merah jelang terbenam, mendung menghiasi angkasa kala itu, saat dimana terjadi tragedi memilukan yang menjadi peristiwa kelam di tanah kelahiranku, Bumi Tadulako.
Hari itu, tanggal 28 September 2018, Kota Palu bersiap melaksanakan Festival Palu Nomoni. Festival Budaya yang menjadi agenda tetap Kota Palu setiap memasuki hari lahirnya. Pelaksanaanya dipusatkan di Anjungan Pantai Talise tepatnya dipesisir teluk Palu di Kelurahan Talise, Kecamatan Besusu Tengah, Kota Palu.
Masyarakat disekitar Kota Palu berduyun-duyun masuk Kota Palu, para pedagang berebut tempat strategis untuk menggelar dagangannya. Penginapan dan Hotel penuh sesak dengan para wisatawan baik lokal maupun dari luar Palu hadir dalam rangka menyaksikan puncak acara Palu Nomoni.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sore itu, sekira Pukul 18.06 terjadilah sebuah bencana maha dahsyat yang membuat dunia serasa kiamat, guncangan gempa melanda Sulawesi Tengah (Sulteng). Getaran gempanya terasa hingga ke Pulau Kalimantan dan wilayah lain di Pulau Sulawesi.
Di Kota Palu dan Kabupaten Donggala selain Gempa Bumi juga terjadi Tsunami yang melanda pesisir teluk Palu dan Donggala. Bahkan di wilayah Kelurahan Petobo dan Kelurahan Balaroa terjadi bencana Maha Dahsyat yakni Likuifaksi yang menenggelamkan ribuan rumah dan mengubur ribuan warganya.
Di kabupaten Sigi pun demikian, di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru dan Desa Sibalaya Kecamatan Gumbasa ribuan rumah dan warga ikut tertelan pusaran bumi yang tiba-tiba menggulung pemukiman.
Tanah yang dahulunya keras tiba-tiba mencair dan kehilangan daya dukung akibat guncangan Gempa. Akibatnya semua yang ada di atas tanah Petobo, Balaroa, Jono Oge hingga Sibalaya tertelan bumi dan terkubur. Ribuan orang dipastikan meninggal, angka korban jiwa mencapai ribuan orang dan jasad yang tidak ditemukan diperkirakan lebih banyak lagi.
Korban Tsunami pun demikian, ribuan warga yang bersiap menikmati acara Palu Nomoni harus menerima kenyataan meregang nyawa digulung Tsunami. Tidak sedikit korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan gedung dan infrastruktur yang rubuh, bahkan tertimpa pohon ataupun terhimpit rekahan tanah.
Dalam catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis Angka 7,4 pada Skala Richter pada Pukul 18.02 Wita untuk guncangan puncak kala itu. Getaran gempa hanya terjadi beberapa detik telah meluluhlantakkan Kota Palu, Ibukota Provinsi Sulteng, serta dua kabupaten disekitarnya yakni Kabupaten Donggala dan Sigi.
Lima menit kemudian, BMKG merilis peringatan tsunami. Lembaga itu mewanti-wanti gelombang laut akan mencapai 0,5 sampai tiga meter. Antara tiga hingga enam menit berikutnya Kota Palu diterjang ombak setinggi enam meter. Masyarakat setempat hanya punya waktu 10 menit, dari saat gempa mengguncang sampai tsunami menerpa, untuk melarikan diri ke tempat tinggi.
Dalam catatan resmi yang dilansir BMKG pada Pukul 18.02 Wita, bencana terjadi. Tanah yang mereka injak tiba-tiba berguncang kuat, jalan-jalan terbelah seperti ombak, dan bangunan-bangunan ambruk. Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter telah melanda Kota Palu. Gempa ini bukanlah yang pertama, tapi inilah yang terkuat.
Ikon Kota Palu, Jembatan Palu IV atau sering disebut Jembatan Ponulele ambruk, patah menjadi ratusan potong. Mall Tatura, pusat perbelanjaan sepanjang jalan Palu Grand Mall roboh. Hotel mewah yang berdiri dipesisir pantai teluk Palu pun menjadi sasaran Tsunami, sebutlah Hotel Mercury, Swissbell Hotel, Palu Golden Hotel, Total Hotel dan lainnya.
Bahkan di Hotel Roa-Roa diseputaran Kelurahan Maesa, Kota Palu rata dengan tanah, disana ada sejumlah atlet Nasional Paralayang yang meninggal terkubur. Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat pun luluh lantak. Ribuan pasien yang terluka parah memenuhi beberapa rumah sakit yang masih beroperasi walaupun dalam keadaan gelap gulita. Listrik dan saluran komunikasi putus, jaringan internet dan transportasi lumpuh. Kota Palu, Sigi dan Donggala lumpuh total dan menjadi Kota Mati yang mencekam.
Menurut Muhamad Sadly, Deputi Bidang Geofisika BMKG, gempa bumi yang terjadi di Kota Palu, Sulteng terjadi akibat aktivitas Sesar Palu Koro. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gempa tersebut muncul sebagai akibat pergeseran lempeng secara mendatar.
Tumbukan antar lempeng inilah yang menyebabkan pelepasan energi dalam jumlah besar dan menimbulkan getaran gempa hingga terasa ke permukaan. Selain itu, karena sifatnya yang berupa gempa dangkal, dampak getaran gempa sangat terasa di permukaan, bahkan sampai menimbulkan tsunami.
Hari-hari pasca 18 September 2018 itu, wilayah Pasigala menjadi gelap gulita. Putusnya aliran listrik membuat para pengungsi harus tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit, kekurangan bahan makanan dan air bersih hingga obat-obatan.
Sesekali guncangan gempa masih terasa, para penyintas bencana memilih tempat aman untuk mengungsi. Tidak adalagi sekat antara kaya dan miskin, antara orang kaili ataupun orang bugis atau suku lain, antara muda ataupun tua. Semua berbaur dalam lokasi pengungsian, ribuan warga Palu, Sigi dan Donggala mendirikan tenda darurat, bahkan ada yang memilih tidur dan mengungsi disekitar kuburan bahkan kandang ternak.
Gelombang eksedus pengungsi juga terjadi diakses keluar Kota Palu, Sigi ataupun Donggala. Ribuan warga memilih mengungsi ke wilayah diluar Sulteng untuk memberi rasa aman bersama keluarganya yang selamat.
Krisis sosial mulai melanda wilayah Pasigala. Mulai krisis air, pangan, sandang, komunikasi bahkan BBM menambah panjang faktor kegelisahan penyintas bencana. Petinggi Negara pun hadir, Presiden bahkan memerintahkan para menterinya untuk fokus memberikan penanganan khusus di wilayah Pasigala (Palu-Sigi dan Donggala).
Relawan dari seluruh pelosok negeri berdatangan baik lewat akses darat, laut maupun udara, bahkan relawan manca negara datang membawa bantuan untuk hadir memeluk Sulteng. Hanya tangisan dan khayalan yang dapat dirasakan malam itu. Perasaan kaget karena tidak sangka hal ini bisa terjadi secara tiba-tiba, belum lagi beberapa anggota keluarga yang tidak berkumpul di tempat yang sama, membuat perasaan semakin tidak bisa dijelaskan. Di tempat pengungsian, para penyintas saling berbagi cerita upaya heroik menyelamatkan diri dan keluarga dari bencana tersebut, semata-mata untuk saling menguatkan.
Perjuangan untuk bertahan hidup diluar rumah dengan keadaan harus kehilangan banyak sanak saudara menjadi hal lumrah kala itu. Beredar kabar bahwa ada penjarahan di minimarket dan SPBU. Namun Mendagri Tjahjo Kumolo membantah berita itu dan memperbolehkan aksi tersebut. Toko banyak yang rusak, dan makanan minuman banyak yang terbuang. Sebab itu, memang diambil begitu saja.
Lebih dari itu, Pemerintah Kota Palu memerintahkan Retail Alfamidi untuk membuka tokonya dan dibayarkan oleh Pemerintah. Hari demi hari harus tetap dijalani, hidup bersama ditenda pengungsian dengan banyak anggota dari kepala keluarga menumbuhkan rasa solidaritas untuk saling menguatkan tiap harinya.
Disaat sulit kala itu, keberadaan radio kecil menjadi harta satu-satunya yang paling berharga karena dapat mendengarkan berita dan informasi dari Radio Republik Indonesia (RRI) terkait bencana. Saat bencana melanda hanya RRI Stasiun Palu lah yang dapat dipercaya memberikan informasi benar diantara informasi Hoax yang beredar di masyarakat pasca bencana.
Seminggu setelah bencana, beberapa yang rumahnya masih layak untuk ditinggali akhirnya kembali ke rumah walau tidur hanya diteras. Rumah warga yang mengalami kerusakan berat memaksa masyarakat untuk tetap tinggal di tenda pengungsian dengan banyak kekurangan.
Walaupun demikian bantuan dari berbagai pihak berangsur-angsur datang diberbagai daerah terdampak. Listrik mulai menyala dibeberapa tempat dengan bantuan genset. Banyak mata air yang digali dan masyarakat mengantri dengan jergen dan galon yang mereka bawa untuk menampung air. Hidup tetap berjalan dengan segala keterbatasan. Apalagi bagi wilayah yang akses daratnya terputus.
Sebulan setelah kejadian, kegiatan perekonomian mulai pulih, beberapa pegawai kantor mulai masuk walaupun tidak diwajibkan. Lebih dari 2.000 orang yang tercatat meninggal dunia dan ribuan orang lainnya masih hilang dan diduga telah meninggal karena gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor, likuifaksi serta suara sirene ambulans menjadi akrab di telinga masyarakat Kota Palu, Sigi dan Donggala.
Layanan utama untuk anak-anak termasuk sekolah dan pusat kesehatan masih belum bisa beroperasi. Transportasi darat berangsur-angsur pulih sedangkan transportasi udara hanya pesawat Hercules yang diizinkan parkir di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri.
Namun begitu, pemerintah masih berusaha sekuat tenaga dalam pemulihan pasca gempa. Gempa Palu menjadikan 10 video trending teratas di platform youtube, terdapat banyak komentar positif namun tak sedikit pula komentar negatif yang membuat para korban sedih melihatnya.
Hastag #palubangkit #palukuat menjadi trending di beberapa platform media
Tidak sedikit juga bantuan terkumpul dari relawan-relawan dari luar dan dalam negeri. Bantuan-bantuan mulai disebarkan ke masing-masing daerah terdampak, sedangkan daerah yang transportasi daratnya masih belum bisa diakses penyaluran bantuan dikirim melalui jalur udara dengan helikopter.
Untuk mengisi waktu luang anak-anak beberapa relawan kesehatan rutin melakukan trauma healing, guna menghibur sekaligus menyembuhkan trauma akan bayang-bayang yang dirasakan hari “itu”.
Tak terasa, dua tahun lebih telah terlewati Pasca Bencana. Upaya para relawan dan Pemerintah untuk datang membantu pemulihan bencana Palu-Sigi dan Donggala (Pasigala) terlihat banyak kemajuan. Kehidupan mulai normal dengan ditandai aktivitas masyarakat yang mulai berjalan dengan baik.
Hastg #Palu Bangkit, Palu Kuat adalah sebuah suport yang menggerakkan naluri setiap warga penyintas bencana, mereka bangkit dari keterpurukan akibat didera bencana berlahan tapi pasti.
Usaha semua pihak yang datang memeluk Palu, Sigi dan Donggala kala masa sulit pasca bencana berhasil. Saat ini roda kehidupan di Palu, Sigi dan Donggala telah berangsur-angsur pulih sesuai Hastag #PALU KUAT, PALU BANGKIT.
* Tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis.






Komentar