oleh

“Kartini-Kartini Selanjutnya” (2)

Oleh: Citra Racindy*

DELI SERDANG – Laboraturium hidup sebutan yang pas untuk makhluk Tuhan yang sangat menawan itu. Tuhan telah menganugerahkan permata yang indah dan sangat menawan. Yang dimaksud adalah seorang perempuan, Rasulullah SAW menilai perempuan sebagai tiang negara. Ajaran Budha sendiri menganggap bahwa perempuan yang merupakan sosok seorang ibu, puteri dan istri adalah sebagai pura bagi kehidupan manusia.

Kata Nietszhe perempuan memiliki kecerdasan besar. Dan sebagai seorang perempuan harus mampu mengendalikan kecerdasan yang kita miliki. Dari rahim perempuanlah, kehidupan diperjuangkan, kehidupan dilahirkan serta kehidupan mendapatkan hakikat dan martabat.

Nabi Adam AS mendapatkan kehidupan dari Hawa, sehingga perjalanan hidupnya terlihat sempurna dengan kehadiran anak-anaknya. Hawa merupakan ibu kehidupan bagi Nabi Adam AS. Sebagai ibu kehidupan tentu tanggung jawabnya tidaklah mudah. Tidak hanya berbicara tampil cantik dan mempesona secara fisik (physicly), namun perempuan harus mampu tampil di depan publik menyuarakan gerakan kehidupan kaum tertindas. Serta melanjutkan gerakan kemanusiaan yang selalu mengedepankan keadilan, cinta dan juga kesetaraan.

Di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dalam buku Eti Nurhayati (2012) mengatakan bahwa bukan siapa-siapa yang telah meletakkan batu sejarah modern Indonesia. Bagi Pram, Kartinilah orangnya. Pram juga mengatakan bahwa “Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. Dialah yang menggodok aspirasi kemajuan di Indonesia untuk pertama kali timbul di Demak-Kudus-Jepara sejak pertengahan kedua abad ke-19. Ditangannya kemajuan itu dirumuskan, dirincinya dan diperjuangkannya untuk kemudian menjadi milik seluruh bangsa Indonesia”. Namun bukan berarti mengesampingkan Budi Utomo (1908) dan gerakan lainnya, tetapi Pram melihat bahwa peran Raden Ajeng Kartini sebagai perempuan telah menandai permulaan dalam sejarah modern Indonesia.

Pergerakan kaum perempuan Indonesia pada abad XIX yang menyoroti pergerakan perempuan dalam bidang pendidikan, merupakan pondasi dasar munculnya gender di Indonesia. Pada masa Kolonial Belanda, dunia pendidikan terbatas. Pendidikan hanya diperoleh oleh orang-orang Belanda serta kaum priyai atau bangsawan. Begitupun kalangan terpelajar yang dapat mengenyam pendidikan terbatas pada kaum laki-laki sedangkan kaum perempuan belum seluruhnya dapat menikmati pendidikan.

Berdasarkan keprihatinan terhadap kondisi perempuan Indonesia tersebut beberapa tokoh perempuan muncul sebagai pelopor kebebasan dan kesetaraan. Nah, langkah inilah yang sekarang dikenal dengan gerakan emansipasi wanita. Gerakan ini dipelopori oleh seorang anak Bupati Jepara yaitu Raden Ajeng Kartini yang memilki cita-cita tinggi untuk mengangkat kaum perempuan sehingga setara dengan kaum laki-laki terutama dalam hal pendidikan. Dan sekarang kita dapat menikmatinya. Berarti kita sedang tidak lagi memperjuangkan, sebaliknya kita lebih kepada mempertahankan semangat juang R.A Kartini.

Indonesia harus optimis bahwa masih ada Kartini-Kartini selanjutnya, hal ini terbukti semangat Raden Ajeng Kartini masih tampak di kaum perempuan terkhusus aktivis muda perempuan Indonesia.

Semangat R.A Kartini juga terlihat dikalangan pelajar, Faye Simanjuntak adalah orangnya. Faye Simanjuntak merupakan pelajar perempuan yang mampu menginspirasi pemuda-pemudi sekarang ini. Faye yang dikenal dengan “Rumah Faye” membuktikan pergerakan perempuan yang mengedepankan keadilan, cinta dan keseteraan. Di usianya yang masih muda, Faye sudah perduli dengan isu yang sedang hangat di Indonesia yaitu terkait Child Trafficking. Masih terlihat titik terang bahwa perempuan di zaman sekarang ini masih aktif dalam isu kemanusiaan, keadilan dan rasa cinta.

Namun kita tidak boleh terlena, sebaliknya kita harus mengambil peran aktif dan memperbanyak aktivis perempuan dalam pergerakan perempuan untuk Indonesia lebih baik. Kita harus lebih meningkatkan lagi semangat juang ini. Kita harus menjadi perempuan yang dapat diandalkan. Meskipun masih ada disekeliling kita yang sudah mulai terjerumus ke dalam pergaulan bebas, korban kekerasan seksual dan terlibat dalam masalah-masalah perempuan lainnya. Mari kita pelan-pelan menuntaskan permasalahan perempuan yang sedang terjadi.

Menghilangkan sifat apatis pada diri sendiri adalah kunci untuk merangkul orang-orang disekitar kita. Kiranya kita harus memiliki jiwa sosial yang tinggi serta semangat juang yang menyala seperti api. Nafas perempuan selalu menghadirkan kedamaian, kesejukan dan ketentraman.

Nabi Muhammad SAW menjadikan perempuan sebagai tulang punggung Negara. Kalau perempuan baik, maka Negara menjadi sejahtera. Akan tetapi, kalau perempuan rusak maka negara menjadi hancur dan berantakan. Jika tidak ingin melihat Indonesia berantakan ayo sama-sama menyayangi dan menghargai hak-hak perempuan Indonesia.

*Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan