oleh

‘Kamanuru’, Kopi Masyarakat Marawola Barat

Celebesta.com – SIGI, Kopi ‘Kamanuru’ dibudidayakan Masyarakat Kaili Da’a di sepanjang dataran tinggi Marawola Barat, Kabupaten Sigi.

Mengapa dinamai ‘Kamanuru’? Kata Eva Bande, menurut para tetua adat dari beberapa desa menyepakati dan menyetujui nama ‘Kamanuru’ yang artinya sesuatu yang diturunkan Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

Kopi Arabika Variety lama Typica yang hidup dengan baik di beberapa desa di Kecamatan Marawola Barat, di bawah oleh Belanda dan diturunkan pertama sekali di tempat Pesanggrahan, Desa Matantimali, kemudian disebar ke beberapa desa, seperti Desa Dombu, Lewara, Soi, Ongulero, Wiapore dan Desa Panasibaja.

“Masyarakat da’a disana, menyebut kopi arabika Typica ini dengan sebutan kopi Lena
Atau kopi Belanda. Kopi arabika Kamanuru ini di produksi oleh koperasi ongunipamaya, dengan berbagai jenis pengolahan paska panen, seperti olah basah giling kering (fully washed) olah kering alami (natural), kering madu (honey),” jelas Eva Bande, Sekertaris Gugus Tugas Reforma Agraria Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kepada Celebesta.com, Rabu (21/04/2021).

Kata Eva, semua jenis pengolahan ini bersumber dari buah kopi (cherry) merah penuh dengan tingkat kemanisan/gula minimal 20%. Kopi yang masuk UPH (Unit Pengolahan Hasil) dicuci dalam bak untuk membersihkan buah kopi dan memisahkan kopi berdasarkan kepadatan biji.

“Untuk olahan natural, buah kopi yang sudah di cuci, kemudian di jemur dalam dome penjemuran dengan membolak balik setiap jam,” ucapnya.

Pengeringan olah natural butuh minimal 25-30 hari, Eva menjelaskan untuk mencapai kadar air 12-13%. Setelah kering, buah kopi kering di kemas dan diistirahatkan selama 65 hari, selanjutnya di kupas kulit the/huller, kemudian di sortir.

“Bravo Kopi Lokal yang dihasilkan dari sumberdaya Bumi Sigi. Kita mesti mendukungnya dengan membudayakan minum kopi lokal. Semangat kawan-kawan, kerja keras dengan niat baik akan berbuah baik di kemudian hari,” harapnya. (Jum)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan