oleh

Sebuah Dusun di Powelua

Celebesta.com – DONGGALA, Di kala pandemi seperti saat ini banyak dari kita akan merenungkan pembelajaran tentang kehidupan. Dimana kemampuan bertahan hidup masyarakat kota akan diuji. Para buruh kehilangan pekerjaan, perusahaan minim pendapatan, sektor industri perlahan terancam. Ketika semua terasa sulit, kebutuhan pangan dan kesehatan akan diutamakan.

Hari ini, Rabu (30/12/2020) kemarin-red, bersama seorang teman mengunjungi seorang peladang yang masih konsisten mengolah lahan di sekitar punggung bukit di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk suasana kota. Dusun Sivua, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang berada dibalik gunung kamalisi. Ada seorang peladang berusia lanjut yang masih setia menanam padi lokal, jenis padi ladang.

Pak tua itu namanya Monji atau Uma Lila yang telah berusia 68 tahun begitu ulet dalam mengolah tanahnya, melanjutkan tradisi nenek moyang yang perlahan tergerus arus modernisasi. Salah satu komoditas pertanian yang berusaha ia jaga untuk terus dapat ditanam tiap tahunnya adalah “punde” merupakan jenis padi ladang yang terbagi dalam beberapa varietas (padi nasi dan padi ketan).

Bagi Uma Lila saat ditemui di Dusun Sivua mengatakan, padi ladang harus tetap di tanam meski jumlahnya yang menanam semakin sedikit, karena dengan menanam padi adat akan terus hidup.

Menanam “punde berarti menjaga tradisi, serta menjaga lumbung tetap terisi. Dahulu, selain dari padi ladang, sumber makanan lainnya dapat berasal dari jagung, dan umbi-umbian yang tentunya dapat selalu menjaga kebutuhan akan pangan lokal.

Dia merasa regenerasi untuk lembaga adat juga telah terbawa perkembangan zaman yang cenderung melupakan kebiasaan pendahulu.

Namun saat ini kebiasaan menanam “punde, perlahan mulai ditinggalkan. Selain menjadi buruh, sebagian petani lebih memilih mananam tanaman yang memiliki waktu panen yang cenderung lebih cepat di banding padi ladang. Seperti beberapa komunitas perkebunan. Nilam misalnya, salah satu tanaman yang menjanjikan dengan tata cara perawatan yang mudah dan memiliki permintaan pasar yang menjanjikan.

“Menanam padi bukan hanya soal menjaga sumber pangan. Karena padi adalah sesuatu yang mulia serta dapat membawa kebaikan dan sebaliknya,” jelas Uma Lila.

Ketika kami bertanya soal apakah generasi di dusun itu dapat melanjutkan tradisi atau kebiasaan  berladang? Pak tua itu seperti kehilangan kata-kata dimana dia melihat kebanyakan anak muda lebih memilih menjadi buruh di kota.

“Banyak anak muda yang memilih bekerja serabutan menjadi buruh ke tuan tanah atau ke kota, dibanding belajar mengolah tanahnya,” ujarnya.

Kini dia dan beberapa orang tua yang masih konsisten berusaha menjaga agar “punde” tetap tumbuh tiap tahunnya dengan harapan, generasi selanjutnya dapat membuka mata untuk melanjutkan kebiasaan yang hampir punah.

“Berharap anak cucunya kelak akan bisa belajar menanam padi. Supaya kebiasaan atau hukum adat bisa tetap berlanjut,” harap Uma Lila.

Kontributor: Buyung Merdeka

Editor: Malik

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan