oleh

Rimba Damai di Tanah Lembantongoa

celebesta.com – Sigi, Dusun Lewonu atau orang-orang lokal dalam bahasa da’a menyebut menggunakan Konsonan ‘V’ menjadi Levonu, secara administratif pemukiman kecil di tengah rimba tersebut  menjadi bagian dari Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Sulawei Tengah.

Kehidupan sehari-hari di Lembantongoa terlihat damai, berbagai suku bangsa (Kaili, Bugis, Toraja, Jawa) dan dua agama besar (Islam dan Kristen) juga ada di kawasan itu, di tandai dengan berdiri kokohnya gereja dan mesjid.  Pemukiman Lewonu di belantara itu,  kini hening tak ada aktivitas berladang. Nampak sejumlah aparat kepolisian yang berjaga di sekitar TKP.

Menarik dalam peristiwa ini adalah soal pernyataan saksi kepada celebesta.com belum lama ini, mengatakan bahwa yang di bakar adalah gereja, tetapi itu diklarifikasi oleh sejumlah pihak.

Mengutip pernyataan Dedi Askary, Ketua KOMNAS HAM Sulteng, ia menyebut bahwa yang di bakar itu adalah Pos Pelayanan Jemaat. Kemudian dalam Konferensi Pers Kapolda Sulteng, Rakhman Baso menegaskan bahwa yang di bakar adalah rumah tempat ibadah yang sifatnya tentatif.

Hingga saat ini, kita belum mendapatkan penjelasan  substansi tentang perbedaan gereja dan Pos Pelayanan. Tentu kita butuh pernyataan resmi otoritas terkait dalam hal ini pihak Bala Keselamatan (BK) sebagai lembaga yang melakukan pelayanan di tempat itu.

Sementara itu, Adriany Badrah, Direktur Eksekutif Celebes Institute mengatakan bahwa Kapolda Sulteng tidak berhak mengatakan yang di bakar gereja atau tidak karena itu bukan ruang dia.

“Kapolda Sulteng tidak berhak mengatakan yang di bakar gereja atau tidak karena itu bukan ruang dia,” ucap Adriany.

Menurut Adriany, Melihat anatomi kekerasan dirinya menduga Jaringan MIT yang melakukan tindaka ini. Sebagaimana mereka meninggalkan simbol-simbol seperti memenggal kepada dan melakukan pembakaran yang di duga tempat ibadah.

Kelompok Esktrimis ini seperti memiliki Doktrin Dehumanisasi, kepala di penggal, rumah di bakar jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Walaupun kerapkali menggunakan simbol-simbol agama tertentu, dalam satu diskusi saya mendengar salah seorang menyebut bahwa ini seperti Manipulasi Teologi, atas dasar ketuhanan tetapi membunuh sesama manusia.

Atas Peristiwa ini, TNI, Menkopolhukam  hingga Presiden Joko Widodo mengecam  tindakan brutal itu. Dalam catatan singkat ini, kita belum memberikan satu kesimpulan secara utuh tentang penyebab terjadinya kekerasan yang menewaskan empat korban tersebut. (Arm)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan