celebesta.com – Sigi, Ribuan lilin yang menyinari Taman Gor Kota Palu malam ini (02/12/2020) sebagai bentuk empati yang datang dari aktivis perempuan Sulawesi Tengah (Sulteng) yang mengecam tindakan terorisme yang terjadi di Desa Lembantongoa pada Jumat (27/11/2020) lalu.
selain menyalakan lilin, para srikandi yang menggunakan pakai putih ini juga mengirimkan doa yang dipimpin secara bengantian dari lintas agama. Tidak hanya itu, kain panjang putih juga disediakan untuk membubuhkan tanda tangan bagi para peserta aksi atau masyarakat sebagai bentuk penolakan atas aksi terorisme yang menghilangkan nyawa manusia.
Ruwaida, Ketua BEK SP Palu mengatakan bahwa hingga saat ini belum mengetahui sejauh mana penanganan terhadap perempuan yang menjadi korban. Penting untuk mengedepankan keselamatan dan kesehatan keluarga yang di tinggal, terutama yang menyaksikan langsung kejadian saat itu.
Ida menambahkan korban saat ini belum mendapatkan perlakuan itu, karena mengalami trauma yang cukup dalam, dan SP Palu akan lebih pada penguatan perempuan.
” Situasi ini kita akan banyak berkoordinasi dengan pihak-pihak Terkait. Secara psikologi mereka perlu di support, bagaimana membuat tidak trauma berkepanjangan dan bisa seperti sedia kala. Saya pikir semua kalangan hadir disana. Psikologi itu perlu dipulihkan,” ungkapnya.
Direktur LIBU Perempuan, Dewi Rana, menuturkan bahwa pihaknya Peduli atas penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak maupun kelompok rentan lainnya.
“Kita ketahui bahwa saat ini kita baru saja kena bencana, kemudian Covid-19 selanjutnya terorisme. Artinya begitu panjang masalah kita hadapi. Tragedi bencana dan kemanusiaan itu perempuan dan anak-anak menjadi korban utama. Bagaiamana perempuan di saat kejadian membawa (menggendong) anaknya berlari,” ungkapnya.
Selanjutnya LBH APIK, Nining, mengungkapkan bahwa peristiwa Lembantongoa adalah pelanggaran
HAM karena menghilangkan hak dasar manusia untuk hidup, dan tindakan semacam ini harus dihentikan.
Risma dari Sekolah Mombine menambahkan kegiatan Ini merupakan proses dukungan moril dari berbagai organisasi perempuan terhadap korban. Gerakan ini akan ditindaklanjuti dengan memberikan penguatan psikologi kepada korban dan memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh korban di Lembantongoa.
“Karena ada seratus lebih kepala keluarga terdampak tidak bisa menempati lokasi (tempat tinggal) mereka,” urainya.
Terakhir, Nisbah yang merupakan Akademisi universitas Tadulako, dirinya berharap kekerasan tidak lagi terjadi, karena akan mempengaruhi situasi kehidupan dimasa depan
“Hari ini kita harus berani mengatakan untuk menolak kekerasan, apalagi pembantaian dan pembunuhan yang akan mengakibatkan trauma psikologis kepada generasi kita kedepan. Kegiatan ini dilakukan untuk masa depan yang lebih damai. Jangan lagi ada kekerasan, jangan lagi ada pembantaian atas nama keadilan dan kemanusiaan, ini harus menjadi catatan penting bagi kita semua,” tegasnya. (Arm)






Komentar