oleh

Pu’u Ntana Surga Para Peladang

Oleh : Arman Seli*

DONGGALA – Puntana atau dalam dialek suku kaili, sub etnis kaili Unde menyebut adalah Pu’u Ntana. Pu’u Ntana merupakan salah satu dusun di Desa Powelua, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala.  Aktivitas Masyarakat di Pu’u Ntana hampir sama dengan tempat-tempat lain di Pegunungan Kamalisi. Iya, berladang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat penutur bahasa unde ini.

Jagung (jole), singkong (kasubi), cabe (rica) bahkan kol tumbuh di tanah subur Pu’u Ntana. Selain menanam tanaman jangka pendek, ada pula cengkeh yang menjadi andalan di tempat ini.

Justru saya melihat disinilah orang-orang kaya yang sesungguhnya. Kemudian juga padi ladang (Punde) ada di tempat ini dengan sistem pengelolaan secara sederhana dan bersahabat dengan alam, musim tanam berdasarkan bintang di langit (ilmu perbintangan).

Keterikatan secara spiritual masyarakat adat dengan tanah menjadi bagian penting dan keberlangsungan berladang. Kemudian dikelola secara arif dan bijak. Cukup dengan kebutuhan rumah tangga, tidak menanam secara besar-besaran menjadi kebiasaan peladang tradisional di pemukiman kecil ini.

Suatu kesempatan istimewal ketika mengunjungi dusun Puntana, Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala bersama Aco (baju putih) yang merupakan anak penulis serial komik “Hukum Kami, Hukum Adat” yang juga mantan Kepala Desa Powelua atau dikenal Hedar Laudjeng (Foto: Arman Seli).

Orang- orang yang hidup sederhana justru merekalah yang kaya. Cara hidup yang biasa saja tidak harus membuat orang-orang di luar pemukiman menghakimi. Hal ini tidak lain sebuah cara pandang yang bersahabat dengan alam.

Menjaga tradisi dalam hal mengelola sumberdaya alam masih dilakukan dengan baik dan struktur ruang yang masih dipahami berdasarkan penyebutan-penyebutan lokal masih berlaku. semisal, bekas lahan yang dikelola (ova), hutan (pangale) kebun/ladang (tinalu) dan masih banyak penamaan lain berdasarkan fungsi tata ruang yang dipahami berdasarkan kearifan lokal.

*Penulis merupakan pegiat Masyarakat Adat.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar