oleh

Kopi Jahe Khas Desa Ulatan, Bupati Sampai Gubernur Pernah Pesan

PARIMO – Celebesta.com, Kopi memiliki sejarah panjang saat kehadirannya di Eropa sekitar abad ke 16. Dimana, kopi telah memberikan pengaruh terhadap perubahan yang terjadi di Eropa, seperti halnya salah satu kelompok Jacobin yang menjadi episentrum gerakan revolusi Perancis. Kelompok itu lahir dari ruang diskusi di kedai kopi, ide-ide dari kedai kopi terakumulasi yang membawa perlawanan kaum ploretariat kepada kaum borjuis masa itu.

Dewasa ini, kopi menjadi minuman favorit bagi seluruh kalangan, baik itu kaum intelektual, pejabat, dan pekerja. Sebagaimana yang diungkapkan salah satu pembuat kopi, Penti (30) yang bertempat di Desa Ulatan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong.

Kopi buatannya pernah dipesan oleh Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu sampai Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola. Bahkan, kata dia Menteri Kabinet Jokowi yang pernah datang ke Tinombo bersama Bupati Parigi Moutong pun sudah merasakan nikmat kopi buatannya.

Ibu yang berusia 30 tahun itu, merasa bangga kopi buatannya sudah bisa dirasakan oleh pejabat yang ada di Sulawesi Tengah, bukan itu saja, kopi buatannya tersebut, sudah sampai ke Jakarta, Kalimantan, dan Surabaya.

“Jadi disangka kopi saya ini dijual di Pasar, tapi tidak, saya menjual melalui pesanan, jika ada yang menelpon dan memesan sekian, maka langsung saya buat dan saya kirim,” ungkapnya.

“Bupati Parigi Moutong pernah pesan Rp 1.600.000, tapi dulu belum ada kemasan seperti sekarang, saya masih taruh di ember yang besar, dan juga di toples,” sambung Penti.

Proses pembuatannya, berbeda dengan yang pada umumnya yang memakai mesin. Dia membuat dengan cara manual, memakai belanga goreng, kemudian diaduk-aduk sampai merata antara kopi dan jahe.

Kopi jahe buatannya berbeda dengan kopi jahe seperti biasanya, campuran jahe yang mendominasi memberikan aroma yang khas, begitu pun saat diseruput, pedis dan manis melekat dilidah sehingga kenikmatannya sangat terasa.

Pembuatan kopi jahe tidak memakan waktu yang lama, hanya butuh satu hari saja, itupun jika ada jahe, sebab kata Penti dalam pembuatan kopi jahe biasa terkendala dengan susahnya didapatkan jahe di pasar.

Penti menjual kopi jahe seharga Rp 10.000, awalnya dia menjual dengan harga Rp.5.000, akibat dampak virus corona, yang menjadikan harga jahe naik sampai Rp.50.000 dan Rp. 60.000, maka dia harus merubah harga kopi jahe tersebut.

“Kopi saya ada dua macam, yang pedis sekali dan tidak terlalu pedis. Untuk kopi yang pedis merupakan campuran kopi dan jahe yang diperbanyak, sedangkan kopi yang tidak terlalu pedis yaitu campuran kopi, jahe, dan ditambahkan nasi kering,” ujarnya.

Baca juga: https://www.celebesta.com/2019/08/20/kopi-mau-menjadi-pilihan-pengembangan-ekonomi-di-desa-namo/

Hanya saja, kopi jahe ini belum memiliki nama atau identitas di pasaran. Ada satu usulan kata Penti kopi jahe diberikan nama dari kata singkatan, dengan nama Koja, namun nama itu belum bisa dibrending dalam kemasan kopi jahe, sebab harus melalui kesepakatan bersama kelompok dan dari Kepala Desa Ulatan.

Sejak saat suaminya mengalami lumpuh, Penti tidak lagi membuat kopi sendiri, dia dibantu oleh 9 orang lainnya yang masuk dalam kelompok usaha milik Desa, dan dia merupakan Ketua kelompok. Kelompok tersebut dibentuk sesuai dengan bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Desa Ulatan untuk mengembangkan usaha mikro ekonomi masyarakat.

“Bupati juga kasih saya bantuan gilingan Kopi dan Kepala Desa Ulatan memberikan bantuan uang sebesar 5 juta untuk mengembangkan usaha dalam bentuk kelompok,” katanya.

Bagi Penti, membuat kopi merupakan mata pencaharian satu-satunya, bahkan dengan menjual kopi dia telah menyekolahkan adiknya yang saat ini sudah bertempat tinggal di Jakarta.

Dia pun harus menjadi tulang punggung keluarganya karena suaminya yang mengalami lumpuh. (MLD)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan