PARIMO – Celebesta.com, Salah satu pemuda Parigi Moutong, Afandy menyoroti pendidikan di Sulawesi Tengah.
Pasalnya, masih tingginya angka putus sekolah di Sulteng karena masalah ekonomi, dimana orang tua tidak bisa membiayai sekolah anaknya, sedangkan anak terpaksa bekerja dan tidak lagi bersekolah.
Menurutnya, putus sekolah juga dipicu oleh jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal, kekerasan seksual, dan kriminalitas.
Sehingga, menurut dia perlu mementingkan sosialisasi penting pendidikan kepada orang tua, selanjutnya, harus ada pembenahan sistem Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) juga dapat menjadi solusi tambahan.
“Sebagai sesama mahasiwa, harus punya inisiatif bisa menjadi relawan untuk membantu agar mereka yang putus sekolah tetap menerima pelajaran. Salah satunya dengan membentuk forum membantu anak-anak putus sekolah,” ujarnya.
Kemudian, pembangunan sekolah masih tidak merata karena sulitnya akses mencapai suatu daerah.
“Ketiga, lingkungan sekolah yang masih tidak aman. Salah satunya disebabkan oleh pengaruh teman sebaya dan contoh buruk dari guru seperti merokok di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan, tingkat kehadiran guru rendah. Rendahnya tingkat kehadiran guru disebabkan faktor minat dan suasana kelas yang tidak kondusif.
“Para guru, terutama di daerah terpencil, perlu biaya banyak untuk pulang pergi ke sekolah. Terkadang penguasaan materinya juga rendah sehingga siswa tidak mendapat ilmu yang baik,” pungkasnya.
“Kami harap kompetensi guru terus ditingkatkan dan tidak hanya diapresiasi tapi juga diberi sanksi jika mereka tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, Pemerintah harus serius menangani masalah semua ini,” tutup Afandy. (MLD)






Komentar