Buruh, Sederhananya kalau kita bekerja untuk orang lain kemudian mendapat upah demikianlah diksi itu menjadi label bagi pekerja. Kenapa analoginya sesederhana itu? kalau kita ke kampung yang akses informasinya masih minim seperti contoh itu yang mudah dipahami.
Kondisi terkini dalam suasana wabah Covid-19 nasib buruh terlunta-lunta, ribuan bahkan Jutaan pekerja di hantui Tiga Huruf yakni PHK.
Catatan ini tidak begitu padat, berbagai tulisan sebelumnya penulis kerapkali mengatakan bukan melalui penelitian yang ilmiah. Begitupun narasi-narasi yang coba di susun saat ini.
Walaupun demikian, tidak kalah pentingnya bahwa buruh adalah kita dan kita adalah buruh. Selama kita bekerja untuk orang lain, siapapun itu. Jangan tegang memahami diksi ini!
Buruh seringkali bernasib buruk jika hak-haknya tidak terpenuhi. Corona Virus yang saat ini belum juga usai menjadi permasalahan baru, himbuan tetap dirumah menjadi hastage di media sosial. Nasib buruh terpuruk jika bertahan dirumah, keluar rumah juga beresiko. Dilema!
Adakah solusi untuk buruh bekerja dirumah? Kemudian, bagaimana nasib pekerja di perusahaan besar yang alat kelengkapannya hanya ada di pabrik? Agak sulit untuknya bekerja di rumah. Kalau buruh di pabrik sepatu, kemungkinan proses tertentu bisa dikerjakan di rumah.
Kalau menjahit sepatu di rumah mungkin bisa ya, dilakukan secara manual tentunya.
Pabrik-Pabrik besar dan industri ekstraktif sulit dilakukan dirumah. Kalau perusahaan tutup maka terjadi pemutusan hubungan kerja.
Butuh solusi yang tepat dari pemerintah, utamanya Para menteri itu harus bekerja dengan baik. Begitupun Mangge Joko jangan aneh-aneh ya kalau bicara. Kemudian Pak Menteri Insial “L” kalau tidak jelas mending diam saja dulu, jangan suka blunder!!
Tidak perlu tegang membaca, ini sebuah pesan untuk rezim yang bercover Demokratis tetapi isinya Oligarki.
Selamat Hari Buruh Internasional !!!
Arman Seli
Penulis Adalah Masyarakat Sipil tidak Bersenjata






Komentar