oleh

Nokeso, Wujud Perlindungan Untuk Perempuan dalam Tradisi Kaili

Celebesta.com – PALU, Nokeso merupakan salah satu ritual untuk anak perempuan menjelang remaja maupun dewasa, tradisi ini digelar sebagai wujud penghormatan dan perlindungan terhadap perempuan.

Hingga kini, suku kaili sub etnis Unde di Salena (Komunitas Adat Nggolo), Kota Palu masih mempraktikkan ritual ini.

Tidak memiliki kitab atau teks kuno yang menjadi referensi, tak ada pendekatan Filologi maupun Tekstologi ritual nokeso dititipkan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan.

Dalam pendekatan bahasa, Nokeso berarti proses ritual sementara terjadi dan Nikeso, berarti sudah dilakukan (lampau) kemudian Mokeso belum terjadi (masih direncanakan).

Nokeso sebagai simbol bahwa anak perempuan akan bertumbuh remaja dan dewasa, hal itu menjadi penanda bahwa dirinya tidak bisa lagi diperlakukan seperti anak balita.

Lelaki dewasa tidak bisa memperlakukannya seperti anak-anak yang belum bertumbuh dewasa. Jika dilanggar secara adat konsekuensinya “Nikoni Nuada” yang bersangkutan diberi sanksi adat (Givu). Itulah yang membedakan anak perempuan yang sudah melalui ritual tersebut.

(Patamba’a ngana nikeso pangane bo’i naghia notalili vunja naghia unde, Nosisala vatina)

“Hari ini ada empat anak yang mengikuti ritual nokeso, ada yang mengelilingi bambu kuning, ada pula tidak. Adatnya berbeda-beda,” kata Manda, warga Salena usai melakukan ritual nokeso, Senin (16/06/2025)

Menurut Manda, anak perempuan yang sudah menjalani ritual, hak-haknya sebagai perempuan yang akan dilindungi secara adat, misalnya dalam hal pernikahan dan lainnya.

Adapun beberapa istilah dalam ritual nokeso adalah :

1) Toniasa :
Toniasa penyebutan anak perempuan yang melalui akan menjalani ritual nokeso ia akan dihiasi dengan berbagai pernak-pernik lokal misalnya pengikat kepala (Tali Boko),

Baju Adat (Moka), Pengikat kepala dari tali hutan yang dianyam (Ale), kemudian kain berukuran panjang (Mesa) di bentangkan mengelilingi rumpun bambu (Bolo Vatu) yang di ikat ketupat (Katupa).

Adapun yang di ikat di depan pintu tempat toniasa turun nta’u nggaluku (Daun Kelapa), Potongan rumpun bambu (Balo) berukuran sekitar 20 CM dan Pinang (Padale Njambulu).

2) Langgai Ntoniasa
Langgfai Ntoniasa adalah seorang lelaki dewasa yang posisinya berada di paling depan dan mengelilingi Bolo Vatu sebanyak tujuh kali. Pada saat mengelilingi harus menginjak Daun Sukun (Nta’u Kamonji) dan pelepah pinang (Palapa nusambulu) di sebelah kanan langgai ntoniasa di ikatkan parang, ditangan kanannya memegang Bolo Vatu yang di atur sedemikian rupa kemudian ada Uvi sejenis alang-alang yang berisi daging kambing (mirip sate).

3) Uma Nuvati

Uma Nuvati adalah seorang Totua (Pemimpin ritual) yang memiliki pengetahuan tentang nokeso tugasnya adalah memastikan ritual ini berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai adat keluarga. Uma Nuvati akan memohon kepada leluhur dan Sang Maha Pencipta agar kelak toniasa akan diberikan kesehatan dan umur yang panjang dalam menjalani kehidupannya. (AS)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan