oleh

Pentingnya Road Map Kebudayaan di Sulteng

PALU – Celebesta.com, Rembuk Kebudayaan bertajuk “Menjaga dan Merawat Peradaban Tua di Lore Lindu”, berlangsung di Pojokan Cafe Lalove, Kota Palu, Selasa (19/12/2023) menghasilkan berbagai ide dan gagasan.

Adapun yang menjadi pembicara dalam rembuk itu adalah Irwan Lapata (Bupati Sigi), Andreas Lagimpu, (Tokoh Adat Kabupaten Sigi), Alimuddin Paada (Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sulteng), Andi Syamsu Rijal (Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII) dan Djamaluddin Mariadjang (Sosiolog).

Penampilan Sanggar Seni Libu Manganda. (Foto: Arman)

Dalam rembuk tersebut menghasilkan berbagai ide dan gagasan. Seperti kata Irwan Lapata, Bupati Sigi bahwa pentingnya tempat bagi pelaku budaya di Sulteng

“Harus ada ruang atau sarana dan prasarana bagi pelaku seni dan Budaya. Hal ini harus dibuatkan Peta jalan (Road Map),” kata Irwan.

Menurut Irwan, Modelnya dalam bentuk sekolah atau lembaga pendidikan tentang kebudayaan. Dirinya juga berharap dari rembuk ini melahirkan sebuah rekomendasi dalam pemajuan kebudayaan.

Sementara itu, Andreas Lagimpu, Tokoh Adat Sigi mengatakan bahwa kita seringkali terjebak dalam diskusi soal peradaban tetapi tidak substansi.

“Pentingnya ada kajian, saat ini kita bicara soal Lore Lindu. Pertanyaannya apakah peninggalan itu di pahat oleh manusia atau seperti apa,” ungkap Andreas dengan nada tanya.

Andreas juga mengatakan bahwa adat dan adab itu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Penampilan Rego/Raego dari Raranggonau, Kabupaten Sigi (Foto: Arman Seli)

“Adat mengatur tentang tertib sosial dan adab itu adalah sebuah energi positif dalam kehidupan sosial,” jelas Andreas.

Masih kata Andreas, bicara peradaban tua, seringkali didiskusikan tetapi gayung tak bersambut.

Andreas menganalogikan kalau bicara peradaban seperti dokter yang mall praktek lain yang sakit, lain yang diobati.

Tokoh Adat Kabupaten Sigi itu memberikan sebuah contoh, didepan rumah ada pipa yang bocor tetapi pemilik rumah tak kunjung memperbaikinya karena tidak merasa memiliki dan beralasan menunggu program pemerintah.

“Jadi bicara peradaban masyarakat harus sadar dan merasa memiliki sehingga apa yang direncanakan berjalan dengan baik,” terang Andreas.

Menurutnya kita harus adil terhadap generasi termasuk meninggalkan pengetahuan yang baik. Seperti dalam sebuah kalimat filosofis orang (To) Kulawi “Tinggalkan mata air kepada anak cucu kita dan jangan meninggalkan air mata” ungkap Andreas.

Kritik Andreas pada pembuat kebijakan, hari ini pemajuan budaya sudah lama digaungkan. Masyarakat butuh political action yang mengarah pada tindakan politik yang dirancang untuk mencapai tujuan.

Pameran Kain Kulit Kayu dari Bada dan Kulawi. (Foto: Arman Seli)

Dalam kesempatan yang sama Djamaluddin Mariadjang menekankan point pentingnya adalah ekosistem kebudayaan.

“Saya kira pemerintah menjadikan ini sebagai dasar dalam pemajuan budaya,” kata Djamal.

Karena background keilmuannya Sosiologi, dirinya banyak membahas dengan pendekatan teori keseimbangan sosial.

Adanya keseimbangan dalam sistem kebudayaan. Harus ada kajian dalam pewarisan nilai, kemudian ada sistem sosial masyarakat.

Menurut Djamal jika aturan keliru maka tidak ada keseimbangan dalam masyarakat.

“Kemampuan mengeksplor dalam kehidupan dan harus bisa memberikan support tumbuhnya nilai ekonomi. Dalam kondisi sosial kultural, Seniman kita harus ambisi dan mendunia,” ucap Djamal.

Disela-sela diskusi juga ada pameran pembuatan kain kulit kayu berasal dari Bada, Kabupaten Poso dan Kulawi, Kabupaten Sigi.

Kegiatan itu berlanjut hingga malam hari dengan penampilan berbagai Komunitas Seni, seperti Sanggar Libu Manganda, Culture Project, Sanggar Seni dari Tampo Lore, Polelea, Komunitas Adat To Kaili Tanamodindi, Penampilan Tarian Rego Raranggonau dan lainnya. (AS)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan